Dimana Ibu ?

Posted on


Bu, anak-anak dimana ?

Begitu selalu Bapak bertanya, apabila beliau pulang ke rumah sehabis bekerja seharian. Ibu tersenyum, membawakan segelas teh hangat untuk Bapak, dan meletakkannya di atas meja.

“Dewi ada Pak, dia lagi main sama Noni temannya di belakang rumah” jawab Ibu sambil membukakan kaos kaki Bapak. Dewi adalah anak bungsu mereka yang masih berusia tujuh tahun

“Kalau Iwan mana ?” Tanya Bapak lagi, menanyakan anak lelaki kedua mereka yang duduk di kelas 5 SD.

“Iwan tadi dijemput temannya, mau main bola di lapangan kampung, sebentar lagi juga pulang” jawab Ibu.

“Angga ? apa dia pergi juga ?” Tanya Bapak sambil menyesap teh hangat buatan Ibu, anak pertama mereka pun tak luput dari pertanyaan Bapak.

“Angga belum pulang Pak, tadi dia terus ke rumah temannya dari sekolah, mau kerjakan tugas katanya. Ibu sudah wanti-wanti, supaya Angga cepat pulang” Ibu menjawab berusaha tenangkan hati Bapak.

Demikianlah Ibu selalu, senantiasa menjawab lengkap pertanyaan Bapak dengan jitu . Dimana anak-anaknya berada dan sedang apa mereka, Ibu selalu tahu .

***

Maka demikian pula dengan anak-anak. Tak ada yang dicari dan diperlu melainkan Ibu.

“Ibu, dimana Ibu ?”

“Ibu disini Nak. Ada apa gerangan kamu mencari Ibu ?”

“Ibu, Angga ada tugas harus membuat kliping tentang sejarah. Ibu bantu Angga ya” pinta anak kepada Ibunya. Ibu tersenyum, sambil mengusap-usap kepala anaknya, ia berkata :

“Ya, nanti Ibu bantu. Sekarang engkau makanlah dahulu, sudah Ibu siapkan di meja”

***

“Ibu, dimana Ibu ?”

“Ibu disini nak. Ada apa gerangan kamu mencari Ibu ?”

“Ibu, baju Iwan sobek terkait kawat pagar tadi. Kancing baju Iwan pun lepas ditarik teman” Iwan berkata dengan wajah kelabu, pakaiannya kotor, sobek dan berdebu. Namun wajah Ibu selalu tersenyum, diusapnya kepala anaknya dan berkata.

“Mari sini lepas bajumu nak, biar Ibu jahitkan . Sekarang kau mandilah dulu, supaya segar badanmu”

***

“Ibuu, dimana Ibuuu”

“Ibu disini Nak, ada apa gerangan kamu mencari Ibu ?”

“Ibuuu ….Dewi jatuh didorong teman , huhuhuhu ….” Dewi memeluk Ibu sambil menangis tersedu. Ibu memandang dan bibirnya tersenyum, diraihnya anak dalam dekapan, diusap bahu disayang-sayang.

“Coba Ibu lihat lukamu, biar Ibu beri obat. Do’a Ibu amat mujarab. Sekali tiup lukamu kembali rapat” Demikian jawaban Ibu selalu hangat. Tangan anak terluka, tapi kata-kata dan peluk Ibu telah menjadi obat.

Ahh Ibu, demikianlah Ibu selalu. Senantiasa ada dan dekat untuk anak-anak. Selalu mengharap bagi anak-anak kebahgiaan dan keselamatan.Tak peduli, kan membuatnya terlelah dan keletihan.

Apabila anak sakit, Ibulah kan lebih banyak lagi pengorbanannya. Jika siang mengurus dan merawat. Pabila malam tiba, dia kan terus berjaga abaikan penat. Usirkan gelisah dalam tak lelap anak , selimutkan hangat dalam dekap do’a dan tirakat.

Ibu, selalu ada dan dekat.

***

Bertahun-tahun kemudian, disaat anak-anak telah dewasa dan berumahtangga. Sebagian bersekolah , sebagian bekerja. Keadaan telah tak lagi sama.

Telah mulai senja hari ini, hujan merinai merundung bumi, guntur pun mendedar berkali-kali. Bapak basah kuyup membuka pintu, tiada Ibu yang biasa menyambut dengan wajah berseri. Dilayangkannya pandangan, hanya anak-anak dalam kesibukan sendiri-sendiri. Bertanyalah bapak :

“Angga, dimana Ibu ?”

“Ibu ? Saya tak tahu Pak. Sayapun baru saja tiba. Mungkin ada di dapur ” Jawab Angga sambil matanya tak hendak lepas dari layar televisi.

Bapak melepas bajunya yang basah dan pergi ke dapur mencari Ibu. Namun tiada yang dicarinya, melainkan hanya seruang tempat, dimana istrinya selalu meracik masakan untuk dia dan anak-anak.

Bapak bertanya kepada anaknya kedua :

“Iwan, dimana Ibu ?”

“Iwan tak tahu Pak. Tadi Ibu keluar membawa payung, mungkin Ibu pergi ke warung”. Jawaban Iwan tenang, dan matanya tetap lekat pada layar laptop.

Bapak terdiam, hatinya mulai cemas, bukankah kepala Ibu sering merasa pusing sekarang. Dan kaki Ibu sering merasa kesakitan. Bagaimana jika Ibu sedang mendapat kesulitan sekarang. Hati Bapak semakin tak tenang.

Dilihatnya anak perempuannya Dewi tengah asyik membaca majalah di kamarnya, Bapak pun bertanya :

“Dewi, dimana Ibu Nak ?”

“Ibu ? Dewi tak lihat Ibu, Pak. Sedari tadi Dewi disini saja, tak tahu kemana Ibu pergi”.

Bapak terpana. Tiada anak yang tahu dimana Ibu mereka berada. Tiada pula yang akan tahu jikalau kepada Ibu terjadi sesuatu apa.

Bapakpun bangkit, meraih payung tergantung di tiang. Dicarinya Ibu kemana ia pergi kira-kira. Terbayang dalam sedih dan kenangannya, dahulu hingga kini Ibu selalu tahu dimana anak-anak berada.

***

Itulah dia. Ibu terseok-seok dibawah payung tipis dalam deras hujan. Kakinya sakit, otonya kram. Hendak mencari sesuatu untuk bisa anak-anaknya makan. Ibu tetap pergi walau hari gelap dan hujan.

“Mengapa kau pergi berhujan-hujanan ?” Bapak khawatir memayungi Ibu

“Tak apa-apa, Ibu baik-baik saja. Hanya kaki sedikit sakit saja” Jawaban Ibu selalu meringankan rasa

“Mengapa tak kau minta Angga menjemput ?” Bapak mengejar bertanya

“Angga baru pulang bekerja. Kasihan dia, jangan susahkan anak kita”

Demikianlah Ibu selalu, senantiasa tak hendak sulit susahkan anaknya. Bekerja berjuang selagi masih bisa. Tak peduli kesehatannya sendiri menjadi taruhannya.

***

Dikala usia telah tua, badanpun telah payah dan renta.

Tak jarang Ibu selalu, memanggil-manggil anaknya apabila rindu.

Tak sedikit anak sibuk selalu, abaikan bahkan dering telfon dari Ibu.

Dahulu Ibu tak ridha bersenang sendirian, jika dalam perjalanan selalu membawa bingkisan dibawa pulang

Sekarang anak dalam keriangan dan hati ceria , tak ingat apa yang Ibu suka. Pulang tak membawa barang sesuatu apa.

Dahulu Ibu selalu menunggu,suami dan anak-anak berkumpul di meja makan. Nikmati masakan Ibu bersama dalam ramai perbincangan.

Sekarang anak tak demikian, lebih senang membuat janji makan bersama teman. Tak ingat kepada Ibu, apakah sudah kenyang ataukah sedang kelaparan.

Dahulu Ibu dalam kesendirian, selalu nama anak-anak didahulukan, kepada Tuhan do’a-do’a dipanjatkan, dalam tetes air mata senang ataupun kesedihan.

Sekarang anak tak ingat wajah Ibu yang berpengharapan. Saat susah ia lupakan, dikala senangpun Ibu diabaikan.

Dahulu Ibu menina bobokan, dahulu Ibu membersihkan kotoran, dahulu Ibu memberi obat dan perawatan.

Sekarang, Ibu kesepian, tiada anak sudi membersihkan mewudhlu-kan, tiada yang berkenan menemani dan menjadi kawan.

***

Bergantilah musim, berlalulah masa …

Kemana rumah yang dahulu menentramkan jiwa ? Ada Ibu dan Bapak disana. Tempat hati tertambat penuh kasih dan manja.

“Ibu, dimana Ibu ?”

Berlari anak dan cucu mencari Ibu. Namun hanya senyum dan gambar Ibu terpajang di dipan kayu. Tiada sambutan peluk dan haru. Tiada usap tangan berkerut Ibu.

“Ibu, dimana Ibu ?”

Sadarlah kini, Ibu telah tiada lagi

Menangis hati tersedu jiwa.

Sesal kemudian tak lagi berguna.

Kini hanya tinggal pusara, dan sekayu nisan tertancap merana.

sebagai pertanda, jasad Ibu terbaring disana.

Tiada lagi Ibu yang selalu tersenyum kepadamu.

Tiada lagi Ibu yang selalu mendengar cerita dan keluh kesahmu.

Tiada lagi Ibu yang selalu membantu dan menolong kesusahanmu.

Tiada lagi Ibu yang selalu menghibur kesedihanmu.

Tiada lagi Ibu yang selalu memaafkan betapapun besar kesalahanmu.

Tiada lagi Ibu yang memberi restu dan mendo’akanmu.

Tiada Ibu, yang menyayang mengasihimu

***

Astaghfirullahal adziim…. Astaghfirullahal’adziim … Astaghfirullahaladziim

Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayaani saghiira

Sayangi Ibu… Kasihi Ibu …

Sebelum tiba masa, dimana kita ingin memberi segala, namun telah tak bisa, Karena Ibu … telah tiada.

*Maafkan kami Ibu, kami mencintaimu*

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s