Cinta Yang Entah Apa Namanya

Posted on

Ini tulisan tentang cinta, cinta yang tidak hanya mengenal kata merayu mendayu-dayu, atau kata-kata keputus-asaan karena perpisahan.
Ini cinta yang membangun jiwa, mendidik nurani, mengembangkan akal budi dan memulia kehidupan. Ini cinta yang harus anak-anak kita kenal. Sebelum waktu merenggut mereka, karena tertipu cinta yang semu. Cinta yang terpedaya hanya pada kecantikan kulit bukan kecantikan bathin.

Dimanakah cinta ? Aku melihat cinta pada riwayat kehidupan seseorang.

Berawal pada suatu pagi tanggal 7 Desember 1994 kira-kira pukul 10.00 di Montreal, Canada yang dihadiri oleh delegasi 190 negara anggota yang dipimpin oleh Menteri Perhubungan masing-masing, termasuk dari Indonesia.

Dengan diiringi tatap mata istri dan anak-anaknya yang dikasihinya, ia mendapat penghargaan dari Civil Aviation Organization (ICAO)pada hari peringatan ulang tahun organisasi itu yang ke-50. Sekretaris jendral PBB saat itu Boutros Boutros Ghali (Mesir) dan Sekretaris Jendral ICAO Philippe Rochat (Swiss) sendiri yang menyerahkan penghargaan itu berupa Medali “Edward Warner Award” atas jasanya dalam dunia penerbangan di Indonesia dan dunia.

Banyak pertanyaan yang diajukan oleh media, tapi yang menarik adalah pertanyaan :

“Ketika ICAO di Chicago didirikan 50 tahun yang lalu, Anda sedang dimana ? dan Anda sedang berbuat apa ?”

Lelaki ini menjawab :

“Pada waktu itu usia saya 8 tahun sedang berada di rumah di pinggir hutan, desa kecil dekat Pare-Pare namanya Landrae. Pukul 10 pagi waktu Chicago sama dengan pukul 10 malam waktu Indonesia Bagian Timur. Pada waktu itu saya sedang membaca Al-Qur’an”

Beberapa media lalu mencatat :“Lima puluh tahun yang lalu tak akan orang menyangka atau terfikirkan bahwa anak kecil berusia 8 tahun dan pukul 10 malam sedang membaca al-Qur’an di rumah Bugis dari kayu dan bambu di pinggir hutan tempat pengungsian orangtuanya bersama beberapa keluarga dokter, ahli pakar lainnya, 50 tahun kemudian akan menerima penghargaan tertinggi International Civil Aviation Organization (ICAO). Ditambah pula yang bersangkutan telah menerima pada tahun 1992 penghargaan tertinggi Theodor von Karman Award yang diberikan oleh organisasi bidang iptek dirgantara, International Council of the Aeronotical Sciences (ICAS)”

Dari peristiwa ini, maka peristiwa kehidupan orang ini sebelum dan sesudahnya telah memukauku akan arti cinta yang sesungguhnya. Orang yang kita bicarakan ini adalah Prof. Dr. Ing. Burhanudin Jusuf Habibie.

1. Cita-cita dan semangat
Pada masa remajanya kira-kira usia 14 tahun, Habibie telah kehilangan seorang ayah. Ayahnya meninggal pada tahun 1950 karena serangan penyakit jantung pada saat sedang memimpin shalat Isya’. Pendadakan yang hebat itu menjadi salah satu tonggak dalam kehidupannya manakala ia menyaksikan ibunya bersumpah dihadapan jenazah sang ayah, bahwa ia akan “membesarkan” anak-anak dan mengawal mereka hingga menjadi orang-orang yang sukses, oleh sebab itu sang ayah tidak perlu “khawatir” dalam alam keabadian sana akan masa depan anak-anaknya, melalui tangan istrinya yang shalihah ini memang sejarah telah membuktikan kebenarannya.

Maka sejak itu hidup Habibie hanya diisi oleh ketekunan belajar dan belajar. Usia 14 tahun pergi seorang diri dari Makasar ke Jakarta untuk melanjutkan penidikan di bangku SMA, dan usia 19 tahun seorang diri pula terbang ke Jerman untuk meneruskan pendidikan tingginya. Tidak ada yang diinginkannya melainkan mewujudkan sumpah ibunya agar dia menjadi orang yang sukses dan berguna bagi banyak orang. Disaat pemuda-pemuda lain kebanyakan tengah berasyik masyuk dengan kemudaannya dan bersenang-senang dengan lawan jenis, Habibie terus melakukan riset di laboratorium bersama dosen dan teman lainnya.

Percepatan dalam menggapai cita-citanya nampak dari semangat dan kesungguhannya menekuni bidangnya. Selalu berdisiplin dan penuh dedikasi. Itu sebabnya bagi orang-orang seperti beliau ini pantaslah telah mendapatkan begitu banyak penghargaan dalam usianya yang masih sangat muda dan sekaligus amanah yang kemudian terus mengelilinginya, disebabkan umat manusia membutuhkan kapabilitasnya sebagai seorang ilmuwan.

Salah satu cita-citanya yang luhur adalah menjadikan bangsa Indonesia ini bangsa yang mandiri. Bangsa yang memiliki harga diri, tidak menjadi bangsa yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan tanpa syarat oleh bangsa-bangsa lain sehingga menjerumuskannya sendiri ke dalam kubang keterpurukan sebagai bangsa peminta-minta dengan banyaknya hutang luar negeri, sekaligus bangsa yang korup dan lemah dalam hukum dan HAM ditengah-tengah sumber daya alamnya dan sumber daya manusia yang melimpah.

Cita-citanya ini kemudian dia hantarkan untuk mewujud satu persatu manakala Habibie memenuhi panggilan negara yang pada saat itu dipimpin oleh Presiden masa Orde Baru Soeharto. Ini yang ingin digaris bawahi Habibie dalam bukunya ‘Habibie dan Ainun’. Meski jabatan-jabatan yang ia terima adalah jabatan politis, yaitu sebagai Menteri bidang Riset dan Teknologi namun seluruh tugas-tugas yang diembannya adalah tugas-tugas yang menghasilkan karya nyata berupa lahirnya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dewan Riset Nasional (DRN), Dewan Standardisasi Nasional (DSN), Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (Aipi), industri-industri strategis dan organisasi-organisasi non departemen di lingkungan ristek. Serta yang fenomenal di Indonesia adalah berdirinya industri dirgantara untuk pertamakalinya dengan teknologi canggih yang telah disiapkan untuk masa 30 tahun kedepan sejak berdirinya, yakni Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Habibie juga merupakan salah satu penggagas dan pendiri organisasi riset dan teknologi tingkat dunia bagi ilmuwan-ilmuwan muslim yaitu organisai IFTIHAR setelah sebelumnya menjadi penggagas dan pendiri ICMI di Indonesia.

Habibie sangat bersedih atas keadaan bangsa Indonesia jika masih bergantung pada negara lain dalam memajukan negerinya, padahal bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan sumber daya alam dan manusia. Akibat dari ketergantungan itu bangsa Indonesia harus menanggung akibatnya. Kita harus mengimport barang-barang kebutuhan kita dari luar negeri. Itu berarti kita membayar keringat bangsa lain. Membayar jam kerja mereka yang dalam satuan mata uang dollar. Kita membayar intelektual mereka.Kita membayar kesejahteraan mereka. Padahal sebagian besar bahan baku yang mereka olah dan hasilkan menjadi produk-produk yang bangsa kita import berasal dari kekayaan alam kita sendiri, lalu kita beli produk mereka dengan harga tinggi, sementara kebanyakan rakyat kita masih hidup dalam taraf hidup yang paling memprihatinkan.

Begitu pula dengan sumber daya manusia. Lihatlah berapa banyak putra-putri Indonesia yang menuntut ilmu di pusat-pusat pendidikan unggulan di dalam dan luar negeri, lalu apa yang terjadi segala modal yang telah orang tua dan bangsa mereka keluarkan lalu menjadi asap tidak dapat dimanfaatkan bagi kemajuan bangsanya sendiri karena banyak dari putra-putri kita yang pandai-pandai dan intelek bekerja mencurahkan segala keahlian mereka bukan di tanah airnya sendiri. Ini yang menjadi keprihatinan Habibie, oleh sebab itu segera dalam masa jabatannya yang masih baru, satu yang beliau nomor satukan adalah pendidikan. Beliau buka besar kesempatan bagi anak-anak bangsa mendapat bea siswa untuk belajar di pusat-pusat pendidikan luar negeri terutama bidang riset dan teknologi, karena dalam pandangannya yang seorang engineer, dalam menapak masa depan bangsa Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan pertanian, dan bahan bakar minyak sebagai penopang ekonomi utama negara. Indonesia harus memanfaatkan sumber daya manusia yang terbarukan. Dengan jumlah populasi yang luar biasa besar dan kualitas yang tidak kalah dengan kualitas SDM luar.

Dalam bukunya ‘Habibie dan Ainun’, Habibie menjelaskan dalam ketegasan, bahwa penutupan IPTN dengan akibat terjadinya gelombang besar hijrahnya aset-a
set bangsa yaitu para karyawan IPTN yang ribuan jumlahnya dan dengan segala kepandaian mereka di bidang industri penerbangan adalah tidak lepas dari campur tangan IMF. Betapa keprihatinan yang sangat besar akibat dari ketergantungan kepada luar negeri dan badan dunia yang jelas-jelas sangat merugikan bangsa dan negara kita.

Dalam perjalanan kehidupannya yang penuh semangat, Habibie dan keluarga tak pernah jauh dari Al-Qur’an. Setiap hari Ibu Ainun membaca dan menghafal isinya, demikaian pun dengan Habibie walau tidak sebanyak yang dilakukan istrinya. Mereka tak meninggalkan puasa senin dan kamis betapapun kesibukan semakin membelitnya semasa menjabat sebagai menteri negara selama 20 tahun lamanya. Ibu Ainun pun hingga akhr hidupnya masih menangani yayasan ORBIT yang membina kaum tunanetra, serta menyantuni puluhan anak-anak yatim sepanjang tahun.

Habibie selalu menyertakan nama Ainun istrinya sebagai salah satu wanita yang menjadi api semangatnya setelah Ibunya. Tak ada lain lagi. Inilah yang kusebut sebagai cinta yang gagah, cinta yang tidak berkeliling hanya di seputar kepentingan pribadi dan pasangan serta keluarganya saja , namun menjelma menjadi bola salju kebaikan dan kebijakan yang terus menggulung masyarakat banyak.

2. Komitmen dan Loyalitas
Komitmen dan loyalitas ini menjwai seluruh peri kehidupan Habibie baik dalam karirnya maupun dalam kehidupan cintanya dalam berumah tangga. Betapa Habibie dan Ainun adalah pribadi-pribadi yang saling memuliakan. Tak seharipun mereka tinggalkan melainkan dengan rasa terimakasih kepada Tuhan karena telah memberikan Ainun untuk Habibie dan memberikan Habibie untuk Ainun. Demikian yang Habibie tulis dalam bukunya. Selama 48 tahun mengarungi bahtera rumah tangga mereka hidup dalam kesabaran dan kesyukuran atas cinta yang telkah Tuhan berikan.

Cukuplah peristiwa dibawah ini bercerita kepada kita betapa indahnya cinta mereka.
Setelah operasi ke-11 kalinya, keadaan Ainun membaik lagi, sehingga hari Rabu tanggal 12 Mei 2010 tepat pukul 10.00 pagi, saya sudah disamping Ainun dan bertanya :
“Ainun, tahukah hari ini hari apa ?” Ainun mengangguk

“Ini hari pernikahan kita selama 6 windu atau 48 tahun”.Ainun mengangguk sambil tersenyum memandang dengan wajah yang cerah namun tetap sedih.
Saya mencium dan hati-hati dan mesra bibirnya sambil berbisik :
“Selamat hari ulang tahun pernikahan kita ke-6 windu. Saya selalu akan mendampingimu dmanapun Ainun berada.Jiwa, roh dan bathin kita sudah menyatu dan menaunggal sepanjang masa”.
Ainun mendengarkan sambil meneteskan air mata, namun tetap dengan senyuman yang selalu kurindukan.
Saya lalu berkata :”Ainun dengarkanlah kata demi kata do’a yang akan kita panjatkan bersama. Do’a ini datang dari getaran nurani kita yang tulus dan murni yang kita panjatkan bersama di Intensive Station I-3 di LMU Klinikum Universitas-Munchen.

Saya yakin Allah mengerti bahasa nurani yang tulus. Saya mulai dan jika Ainun setuju, anggukan kepalamu dan jika tidak setuju gelengkan kepalamu ya. Setelah itu do’a kta ulangi bersama. Saya mulai Ainun.

Terimakasih Allah, ENGKAU telah lahirkan saya untuk Ainun dan Ainun unttuk saya.
Terimakasih Allah, ENGKAU telah pertemukan saya dengan Ainun dan Ainun dengan saya.
Terimakasih Allah, tanggal 12 Mei 1962 ENGKAU Nikahkan saya dengan Ainun dan Ainun dengan saya.
ENGKAU titipi kami bibit cinta murni, sejati, suci, sempurna dan abadi
Sepanjang masa kami sirami titipanMU dengan kasih sayang, nilai Iman, Takwa dan Budaya
Kini 48 tahun kemudian bibit cinta telah menjadi cinta yang paling ndah, sempurna, abadi/
Ainun dan saya bernaung dibawah cinta milikMU dipatri menjadi manunggal sepanjang masa
Manunggal dalam jiwa, bathin, Nafas dan semua yang menentukan kehidupan
Terimakasih ALLAH menjadikan kami manunggal karena cinta abadai yang suci dan sempurna
Pertahankanlah dan peluharalah kemanunggalan kami sepanjang masa
Berilah kami kekuatanmengatasi segala permasalahan yang sedang dan masih akan kami hadapi
Ampunilah dosa kami dan lindungilah kami dari segala pencemaran cinta abadi kami

Sambil dengan mesra mengelus kepala Ainun kami ulangi bersam do’a yang sebelumnya saya bisikkan di telinganya. Bibir Ainun bergetar memanjatkan do’a kami, kata demi kata dengan air mata berlinang.

Tanggal 21 Mei 2010 pukul 17.20 waktu Muenchen, Professor masuk ke ruangan dan matanya memandang mata saya, sambil mengangguk memberikan tanda detik-detik terakhir Ainun di dunia kita dan Ainun akan sebentar lagi pindah ke alam dimensi lain. Ketika itu saya bisikkan di telinga Ainun berkali-kali :
Asyhadu anlaa ilaaha illallaah wa asyhadu annna Muhammadarr Rasuulullah.

Tepat pukul 17.30 waktu Muenchen Ainun dengan tenang dan damai meninggal dunia.

Siapa tak menginginkan cinta setulus sesuci itu, tak pernah tercemar dan ternoda oleh godaan duniawi. Pasangan menghantarkan kekasihnya pada keabadian dalam cinta yang begitu dalam.

Cinta yang entah bagaimana aku menamakannya. Namun kita semua telah banyak ditunjukkan oleh kehidupan melalui suri tauladan orang-orang baik disekeliling kita. Betapa waktu kita ini tak banyak. Semoga hanya yang terbaik dan terindah yang dapat kita persembahkan bagi orang-orang di sekliling kita dalam perjalanan menuju ke hadiratNYA. Aamiin

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s