Wanita-Wanita Bermata Hujan

Posted on

Setelah menyelesaikan membaca beberapa ba’it do’a akibat khawatir luar biasa tersasar di kota Jakarta, akhirnya sopir Taxi itu berhasil juga mengantarku ke tempat berlangsungnya hajatan besar para penulis Indonesia dalam event ON/OFF di Gedung Rasuna Said Epycentrum Kuningan Jakarta tanggal 3 Desember 2011 kemarin.

Sudah setahun berlalu sejak aku datang ke tempat ini, ada rasa sedih terselip karena tahun yang lalu datang ke event yang sama (walaupun dengan judul yg berbeda yaitu Pesta Blogger 2010) bernaung dalam bendera Multiply Indonesia (MPID) kali ini aku datang secara pribadi bersama seorang teman. Sedih karena banyak teman-teman MPID tidak bisa kutemui disana, termasuk yang paling mengiris hati adalah ketidak hadiran almarhumah Yusnita Febri yang beberapa bulan sebelumnya, beliau telah menjanjikan akan membantu mendapatkan tiket untukku bisa mengikuti event itu.

Namun rasa sedih itu terobati demi melihat nama almarhumah dan seorang teman blogger lain bernama Anazkia masuk kedalam jajaran penulis yang tulisannya dibukukan dalam sebuah buku berjudul :’ Berkat Ngeblog, Pencapaian-pencapaian yang dimulai dari ngeblog’ . Selamat ya mbak Anazkia begitu pula mb Yusnita, sekali lagi merasa bangga dengan prestasi yang telah kalian capai tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa saat mengikuti acara yang berlangsung hingga satu kesempatan rehat, aku melingkar ke sisi lain gedung dan secara tidak sengaja menemukan satu ruangan yang aku sendiri saat itu tidak mengetahui apakah forum ini berkaitan dengan acara ON/OFF atau tidak, namun di dalam acara yang nampaknya sudah setengah jalan itu aku dapat menyelinap masuk dan mendapat kursi yang tersedia disana di tengah-tengah seorang pembicara sedang menyampaikan pengalaman pribadinya. Rupanya pembicara yang dimaksud itu adalah mantan Tenaga Kerja Wanita yang satu tahun yang lalu bekerja di negara Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga.

Dari pengalaman yang beliau kisahkan ulang dengan disertai sesekali isak tertahan aku mulai mengetahui bahwa ia mendapat banyak siksaan lahir dan bathin selama bekerja di perantauan. Sekilas, karena beliau mengenakan baju muslimah yang tertutup aku dan teman-teman lain tidak bisa melihat sesuatu hal yang aneh dengan tubuhnya kecuali beberapa goresan bekas luka di wajahnya yang sudah mengering. Namun hati terperanjat, saat diperlihatkan gambar-gambar slide yang membentang di dekat podium, betapa banyak luka yang beliau dapatkan di sekujur tubuhnya. Ada beberapa luka bekas sundutan rokok di pundak, tangan, punggung dan paha. Ada lebam-lebam dan memar di tangan, bawah mata dan sekitar mulut. Bahkan ada bekas pukulan dan gilasan strika panas di paha dan telapak tangan. Sangat mengerikan jika melihat luka-luka itu masih nampak baru di gambar.

Wanita tersebut yang belakangan diketahui bernama Ibu Kusminah itu menceritakan bagaimana awal keberangkatan beliau ke negeri orang dengan berbekal pengetahuan dan kemampuan sebagai asisten rumah tangga demi memperbaiki kehidupan keluarganya yang miskin di Kebumen. Dengan meninggalkan seorang suami dan dua orang anak berangkatlah ibu ini 3 tahun yang lalu untuk mencari nafkah. Pada awal masa-masa ia bekerja di rumah majikannya belum ada tanda-tanda mencolok dari sikap majikannya, masih wajar dan masih dalam batas normal. Namun sekitar tiga bulan kemudian mulai terlihat sifat keras dan kejam sang nyonya rumah tangga yang mudah sekali marah apabila Ibu Kusminah melakukan kesalahan walaupun kesalahan itu hanya sekedar kurang bersih mencuci sebuah gelas, maka tamparan di pipi akan ia terima.

Keadaan semakin sulit setelah keluarga di rumah itu kedatangan saudara mereka dari daerah lain di negeri Saudi itu. Tamu baru yang masih ada ikatan darah itu juga ternyata memiliki temperamen yang sama kasarnya dengan tuan rumah. Ibu Kusminah sering diminta bantuan mencuci baju-bajunya saat ia baru pulang, padahal saat itu adalah waktunya Ibu Kusminah beristirahat. Jika Ibu Kusminah menundanya maka ia akan menerima jambakan di rambutnya dan tamparan di wajahnya. Dan hari-hari berikutnya adalah neraka baginya, selain harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, Ibu Kusminah juga harus menerima makian demi makian serta hukuman-hukuman fisik atas kekurangannya dalam mengerjakan tugasnya seperti yang telah dituliskan diatas. Bahkan Ibu Kusminah pernah dicambuk karena menolak memijit majikan laki-lakinya.

Hingga puncaknya pada suatu malam dimana Ibu Kusminah harus kehilangan kehormatan karena dipaksa oleh majikan laki-lakinya. Dan itupun disertai siksaan di sekujur tubuhnya setelah hajat sang majikan tuntas sebagai ancaman agar ia tidak mengadu ke fihak luar dalam hal ini KBRI atau lembaga pengaduan lainnya. Bagaimana Ibu Kusminah bisa mengadu, sedang ia selalu dikurung setiap hari tidak bdiperkenankan keluar rumah, karena untuk keperluan belanja dan lain-lain selalu nyonya rumah yang melakukannya, sedang ia sendiri terkunci di dalam selama 24 jam sehari semalam.

Seperti kebanyakan cerita menyedihkan lainnya, kisah pelarian Ibu Kusminah ini pun teramat dramatis. Ia mencoba melarikan diri melalui lubang angin yang ada di kamar mandi rumah itu. Setelah 5 kali percobaan melarikan diri gagal akhirnya usaha terakhirnya ini berhasil. Dengan berbekal beberapa nomor telephone yang bisa ia hubung, akhirnyai Ibu Kusminah terhubung ke KBRI dan berhasil diselamatkan.

Berderai air mata sepanjang mendengarkan kisahnya, rupanya tidak cukup meredakan sedihku. Karena pada kesempatan lain, ada kisah-kisah baru penindasan terhadap tenaga kerja negara kita di negara-negara lain yang tidak kalah mengenaskan. Namun yang mengherankan adalah ternyata derita mereka tidak berhenti sampai disitu saja. Sesampai di tanah air, begitu menjejakkan kaki pertama kalinya di bumi Indonesia ini, banyak dari mereka telah mendapat rintangan baru untuk menemui keluarganya. Beberapa oknum petugas di bandara mengenakan biaya tinggi untuk mereka bisa keluar dari bandara yang membuat mereka terpaksa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Ada seorang ibu yang menangis di sepanjang ia menceritakan kisahnya, tetapi tangisnya itu menjadi magnet tangisan peserta diskusi di ruangan itu manakala sampai pada episode, dimana saat ia tiba di rumah, dengan hanya disambut petugas RW dan seorang sepupunya, ia mendapat berita bahwa suaminya telah menikah lagi dengan wanita lain beberapa bulan sebelumnya, sementara anak-anak mereka dititipkan di rumah nenek mereka yang sama miskinnya.

Banyak sekali kisah sedih bertebaran di ruangan itu, dan seusai acara akupun berkesampatan langsung berbicara dengan salah satu dari mereka yang subhanallah aku tidak bisa ceritakan bagaimana keadaan fisiknya. Yang dulu sangat manis, kini tampil dalam keadaan yang sangat berbeda akibat dera siksa majikannya, sementara ia masih dalam keadaan belum berumah tangga. Ia hanya tersedu, yang ia inginkan hanya membahagiakan Ibunya yang kini sudah sebatangkara di kampungnya karena ayahnya telah meninggal dua tahun yang lalu.

Selama dua jam di ruangan itu tak habis-habis aku memujiNYA betapa Tuhan telah ciptakan kaum yang hebat, yang meski hancur raga tersayat sakit, pukulan, hinaan dan nista orang lain, namun tetap tegak dalam kesabaran. Dengan bantuan banyak fihak beberapa diantara mereka kini dapat bangkit kembali, menyusun keping hati dan hidupnya yang terserak sebelumnya. Dan dukungan pemerintah serta saudara-saudara mereka satu bangsa adalah mutlak diperlukan demi masa depan mereka yang lebih baik.

Allah selalu bersama orang-orang yang teraniaya, diantara DIA dan mereka tak berjarak. Semoga aku dan kita semua dapat memetik hikmah dari kisah-kisah mereka yang mungkin mereka tak sempat menuliskannya
untuk dapat menjadi prasasti peringatan bagi generasi berikutnya bahwa wanita yang begitu dimuliakan dalam agama seharusnya mendapat tempat yang layak dalam masyarakatnya, sehingga mereka tidak perlu mendapat perlakuan seperti itu lagi di masa mendatang. Satu evaluasi bagi pemerintah untuk kesekian kali dan rasa perduli dari kita sesama anak negeri.

Perjalanan yang mengesankan dan akan selalu terkenang wajah-wajah bermata hujan itu dihatiku. Semoga Allah menyayangimu wanita-wanita tegarku, aku belajar darimu.

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s