Selamat Jalan Yusnita Febri

Posted on

Kukira semua teman penulis blog dan Multiply ingin menulis tentang dia hari-hari ini. Dia terlalu nyata untuk diabaikan dalam ruang blog dan Multiply karena kekonsistenannya menulis di ruang maya ini. Hampir setiap hari dia muncul, entah dalam jurnal, artikel, postingan foto-foto atau sekedar komentar-komentarnya yang kadang sangat serius, kadang datar, tetapi kadang juga usil.

Ya, Yusnita Febry *duh tak percaya rasanya mengiring namanya dengan sebutan almarhumah* telah “pergi” malam tadi. Berita mengejutkan itu datang tengah malam tadi bersama kekagetan yang menghentak perasaan seluruh sahabat onliner Multiply dan Blogspot (paling tidak itu dua ruang yang aku tahu Nita mengisinya dengan tulisan-tulisannya yang sarat makna). Menangis sendirian didepan laptopku, mengingat lagi kebersamaan dia dan kita selama ini …

Yusnita Febry, salah satu pejuang bagi tercapainya hak-hak penyandang tuna rungu. Dengan berlimpah goresannya di ruang http://yusnitafebri.blogspot.com dan http://nitafebri.multiply.com, Nita begitu kita semua biasa memanggilnya tak pernah lelah menyuarakan hak-hak anak-anak berkebutuhan khusus dalam hal ini penyandang tuna rungu.

Dalam blognya tak sedikit artikel atau jurnal yang mengangkat keberadaan para penyandang tuna rungu ini sebagai pribadi-pribadi yang sama penting dan berharga seperti pribadi-pribadi yang lain. Pribadi-pribadi yang sama memiliki hati dan oleh karena itu juga memiliki perasaan. Pribadi-pribadi yang memiliki banyak keunggulan-keunggulan dalam kehidupan dalam hal prestasi, ketegaran dan kesabaran. Dan Nita sendiri telah membuktikannya sendiri dalam kehidupannya, begitu banyak prestasi kepenulisan dan prestasi lain yang ia telah peroleh selama hidupnya yang tidak lama ini.

Yusnita Febri dahulu adalah sama seperti anak kebanyakan lainnya, namun suatu penyakit telah menyebabkan fungsi pendengarannya berkurang. Bukan hal yang mudah bagi seseorang yang semula memiliki fungsi tubuh normal, perlahan-lahan menyadari bahwa dia telah kehilangan salah satunya. Hari demi hari dilalui seorang yang masih berusia belia ini dengan menegarkan diri. Bersama kesabaran orang tua dan keluarga, ia tapaki juga masanya hingga kemudian orang-orang mengenalnya sebagai Yusnita Febri yang tangguh dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Banyak ia tulis curahan hatinya dalam blognya, yang bagiku ia adalah curahan hati banyak penyandang tuna rungu lainnya yang sepantasnya kita semua fahami dan kita berempati atasnya. Dia bukan pribadi yang minta dikasihani atas kekurangannya, ia hanya ingin “DIDENGAR”. Dan seluruh tulisan serta aktivitasnya telah banyak meninggalkan bekas di hati adik-adiknya yang berkebutuhan khusus. Api yang membakar semangatnya ia patri sebagai slogan dalam blognya dengan kalimat : “JADIKAN KEKURANGANMU UNTUK MAJU”

Aku sendiri berkenalan dengannya pertamakali dari tulisan-tulisannya di Multiply, dan pada waktu yang lain Tuhan mengizinkanku untuk bisa bertemu dengannya pada suatu event Pesta Blogger 2010 di Kuningan Jakarta dan kesempatan kedua pada acara kopdar warga MP di danau UI Depok serta yang ketiga di ultah MPID 2011 di Pejaten Jakarta. Aku dekat padanya dalam tulisan-tulisannya dan komentar-komentarnya di jurnalnya atau jurnalku di Multiply. Dan kemudian mengetahui bahwa Nita seorang yang senang memanjangkan silaturahmi. Dengan keterbatasan pendengarannya Nita tak pernah merasa berat untuk bisa sekedar bertemu dan bersilaturahmi dengan kawan-kawan di Multiply maupun kawan penulis lainnya di blog manapun.

Tak ada lagi Nita di dunia ini, tak ada lagi pertemuan dengannya dalam kesempatan kopdar kawan-kawan penulis di Multiply maupun blog. Tapi, kita akan selalu mendengar api yang membakar semangatnya yang ia patri sebagai slogan dalam blognya : “JADIKAN KEKURANGANMU UNTUK MAJU”

Kupetik sebuah jurnalnya dari blogspot sebagai berikut :

Pernahkah kau menyadari kawan, betapa syahdu sekali suara azan itu..

Dulu ketika telinga ini masih baik-baik saja, di usia anak-anak menganggap suara azan sebagai rutinitas saja.

Artinya menaganggap azan yang didengar dari pengeras suara di mesjid biasa saja. Oh iya jarak mesjid di komplek rumah saya kurang lebih 200 meter.

Tetapi semua berubah.

Ketika suara azan hanya terdengar samar, tak lagi sekeras dulu yang biasa kudengar.

Akupun merasa kehilangan..

Kehilangan suara yang biasa rutin kudengar di jam-jam tertentu.

Terutama kala magrib

Kini suara azan hanya bisa terdengar jelas dari jauh apabila saya mengenakan hearing aid.

Suara Azan itu menjadi begitu bermakna ketika merasa kehilangan…

Suara Azan terdengar begitu syahdu di telinga ini.

Telinga yang kini di tempeli alat bantu dengar.

yaa.. apapun suara itu.

Yang dulu dianggap biasa.

Tetapi ketika kehilangan suara yang biasa terdengar rutin, akan menjadi lain.

(Postingan Nita edisi Jum’at 5 Agustus 2011 berjudul : Suara Azan Terdengar Syahdu Saat Merasa Kehilanngan)

Nita, sekarang kamu tak perlu hearing aid lagi untuk mendengar azan. Suara takbir itu kuyakin akan selalu mendekapmu dalam perjalanan menuju Tuhanmu. Bersama do’a sahabat-sahabat yang jelas kau dengar kini, kamu akan tahu bahwa betapa kami semua teramat menyayangimu dan menangisi kepergianmu. Semoga Tuhan kan pertemukan kita lagi suatu hari nanti.

Selamat jalan Nita sayang …Selamat jalan.

Bersama Nita di ultah MPID di TK Buana Pejaten Jkt

Nita mendapat banyak penghargaan atas tulisannya di arena Pesta Blogger 2010 Kuningan Jkt

Keakraban itu …

Ratu Kopdar kita di MP

Menjadi salah satu juara MPer Ter ….

Yusnita Febri ❤

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s