Bunga Gaza

Posted on

Najma mengangkat ujung gamisnya yang berdebu tersaput debu. Gadis berusia 10 tahun itu tergesa-gesa dalam pincangnya menuju rumah batunya beberapa blok lagi. Roti dalam keranjang yang baru didapatnya dari hasil menjual kain ibunya dipegangnya erat. Dua adik laki-lakinya tentu telah kebingungan bagaimana menghentikan tangis adik perempuan bungsu mereka yang masih balita. Najma telah meninggalkan mereka seharian untuk menjajakan kain peninggalan ibu mereka demi sebongkah roti makan siang dan malam mereka.

Berdentuman suara missil ditembakkan dari kejauhan mengiringi ruang pendengarannya, Najma tak memperdulikannya. Dibukanya pintu kayu yang telah berlubang pada kayunya yang pucat karena peluru tentara musuh saat mereka menangkap ayah mereka dua bulan lalu. Masih terbayang dalam ruang ingatannya saat ayah mereka dan Abdullah kakak laki-lakinya diseret dengan tangan terikat dan mata tertutup ke dalam mobil militer pasukan berseragam loreng itu. Hanya tangis ibu dan adik-adik kecilnya mengantar kepergian mereka. Dan sejak saat itu, tak pernah lagi ayah dan kakak laki-lakinya nampak di pintu rumahnya dalam keadaan apapun, melainkan sebuah berita yang dikirimkan kepada ibunya bahwa keduanya telah wafat.

Najma masuk kedalam rumah, dilihatnya semua adik-adiknya tertidur lelap, nampak pada wajah malaikat mereka itu bukanlah lelap yang senyap, melainkan lelap yang bising dengan nestapa dan rasa lapar yang ditahan. Wajah kanak-kanak Najma tak berekspresi sebagai perasaannya yang ia coba tegakkan tegar. Diraihnya keranjang di meja, lalu dikepalnya sebongkah roti yang terasa telah mengeras untuk dipotong-potongnya menjadi beberapa iris agar adik-adiknya tinggal memakannya saja pada saatnya bangun nanti. Melihat dirinya sendiri memotong roti, berkelebat bayangan ibunya dalam keadaan yang sama di meja itu. Biasanya ibulah yang memotong-motong roti ini dan jika mereka beruntung ibu punya selai kacang untuk dioleskan diatas roti mereka, dan dia serta adik-adiknya akan tertawa kegirangan dibuatnya serta mengomentari lezatnya roti mereka.

Najma menepis dengan cepat lamunannya, ia tak ingin kenangannya membawanya pada peristiwa saat ibunya tertembak tepat di dadanya oleh pasukan yang sama yang dulu mengambil ayahnya. Entah kesalahan apa yang dibuat ibunya sehingga mereka tega menembaknya dan tinggalkan dia serta adik-adiknya dalam ketakmengertian akan keadilan kehidupan atas mereka.

Najma segera mengibaskan serpihan roti di bajunya dan ia susun roti itu bertingkat-tingkat seperti yang pernah ia lihat cheff terkenal dunia melakukannya saat ia menonton di tv tetangganya setahun yang lalu. Najma memasukkan tangannya ke dalam saku gamisnya yang lebar, dicarinya bunga perdu yang ia petik dari lapangan di tepi barat tadi pagi. Dia tersenyum, bunga itu belum terlalu layu untuk ia pasang di antara roti-roti kering hidangannya. Tiga batang bunga rumput yang nampak indah di jeli matanya yang kejora.

Najma menatap ketiga adik-adiknya yang masih melingkar dalam tidurnya, lalu ia lipat siku tangannya dan membuka telapak tangannya. Dalam tunduk dan pejam matanya, Najma berbisik dalam do’anya :

“Ya Allah, terimakasih telah selamatkan bunga rumput ini dari missil mereka, hingga dapat kupasang di roti untuk makan malam adik-adikku. Semoga adik-adikku senang,Tuhan, seperti saat ibu masih ada, aamiin.” Diusapnya titik-titik mutiara di bening matanya dan Najmapun senyap dalam senja.

Menggelincir matahari Gaza, terik hati Najma berganti lembut dan sejuk malam. Tiada yang diinginkannya, melainkan ia warisi cinta ibunya, agar tak berkurang kebahagiaan adik-adiknya.

*Cinta tak pernah musnah, walau direnggut dengan paksa dari dada-dada pemiliknya, ia hanya berpindah, pada siapa yang pantas mendekapnya*

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s