[melatipelayu] Buka Bersama

Posted on

Hari itu sangat panas di seputar institut BBAP *Biar Bodo Asal Pinter’, seorang gadis manis bernama Wewet dengan wajah tertunduk sambil mengepit buku-buku kuliahnya berjalan menuju perpustakaan kampus. Terik matahari tak membuatnya hendak membatalkan puasanya, ia seorang yang dikenal teguh dalam melaksanakan kewajibannya, Sambil ngemut kwaci *ngabuburit katanya*,Wewet terus mengarahkan langkahnya. Saat melewati pintu ruang dosen, terkesiap hatinya saat melihat dalam gerakan slowmotion Bambang Priyantono dosen bahasa Uranus dan Jupiter kampusnya keluar dari ruangan.

“Astapiloh….” bisik hati Wewet. Dengan pipi memerah dadu dan gerakan bibir dan kedip mata yang tidak sinkron *koq mirip gejala stroke ???* Wewet mencoba menyapa dengan suara bergetar seperti tiang listrik habis dipukul tukang ronda :

“Selamat siang Pak Bambang” sapa Wewet dengan senyum semanis gulali.
Bambang berhenti dari langkahnya,dan demi dipandangnya gadis masinis eh gadis manis yang selama ini menabrak-nabrak hatinya, sekali-kali atret,kadang-kadang banting kanan banting kiri menyapanya,membuat cekat cekit hatinya.

Namun berbeda dengan apa yang terjadi di hatinya, Bambang hanya menjawab:

“No,No,No…….ini sudah menjelang sore, kenapa kamu bilang selamat siang ?”
Bambang bertanya dengan nada yang membuat Wewet kecewa. Selaluuu…..kata itu yang diucapkan terlebih dahulu jika ia berhadapan dengan orang, apalagi mahasiswanya. Itu karena ia memang ingin disegani oleh mereka, sehingga wajar jika di kampus ia dijuluki Mr. Nono.

Wewet salah tingkah ditanya seperti itu:
“i..iya…..udah mau sore Pak,ma’aaaap, maklum lagi puasa, jadi berasa siang teruss” jawab Wewet.

“Puasa koq makan kuwaci ?” selidik pak Bambang yang curiga dengan apa yang ada di dalam mulut Wewet.

Wewet gelagapan ditanya begitu oleh dosen yang dikaguminya itu, ia pun berkilah :
“Oohh ini bukan kuwaci pak ini Bodrex, saya kan lagi sakit kelapa, eh sakit kepala” jawab Wewet sekenanya, tangannya mengibas-ngibas bekas kulit kuwaci di pipinya.

“Lah, ya sama aja, kenapa puasa-puasa, kamu makan bodrex ?” tanya Bambang tambah galak, *tanda-tanda hatinya cenat cenut*

“Itulah okenya Bodrex, bisa diminum kapan aja” *senyum*

Sepicles, Bambang garuk-garuk punggung pake blangkon *kemana-mana pake blangkon, karena moto hidup pak dosen Bambang adalah “Kami Cinta Produk-Produk Indonesia”, entah apa lagi yang harus dikatakannya.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar teriakan seseorang memanggil Wewet :

“Wet…! tunggu !
Tatkala keduanya, *Wewet dan Bambang* memperhatikan ke arah suara, nampaklah Dedi Bagus Banget Katanya, mahasiswa yang dikenal pleboi di kampus mendekat ke arah mereka berdua.

“Hai Ded, ada apa ?” tanya Wewet
Sebelum menjawab pertanyaan Wewet, Dedi mengangguk dan tersenyum kepada Bambang dosen mereka. Dengan terpaksa Bambang balas tersenyum, walau hatinya waswas karena ia tahu reputasi Dedi di kampus itu. Bagaimanapun ia khawatir terjadi apa-apa diantara Wewet dan Dedi.

“Ini Wet, aku cuma mau ngajak kamu buka bersama nanti di rumah si Ipie, mau ya ?” Dedi menjawab dengan pandangan yang sejuk sesejuk penyegar mulut. Melihat Dedi bertingkah seperti itu, Bambang hatinya jadi gemas dan kesal, ingin rasanya cuci baju, beres-beres rumah, nyetrika, mandi terus bobo.

Maka dengan berpura-pura bersikap elegan *elek-elek suka minum degan* Bambang mengundurkan diri dari mereka :
“Ya sudah Bapak mau ngajar lagi, Ded ingat skripsimu diulang lagi dari Bab Pertama yah, yang kemaren salah semua kamu !”

Mendengar bapak dosennya berkata seperti itu tersentaklah Dedi, “Hah ? Bab Pertama lagi ? gua kan udah mau beres ? ancuuurrr minteeeennnn, eh minaaahhh” Bisik hatinya, tak berani ia menggerutu dihadapan Wewet yang diincarnya.

But show must go on, walau hatinya geje (gak jelas), namun Dedi tetap berusaha bermuka manis dihadapan Wewet.
“Gimana Wet ? jadi ya ? kamu bisa kan ikutan bukber nanti sore ?”

Dengan wajah sumringah, akhirnya Wewetpun menyanggupi ajakan Dedi itu.

***

Sementara itu di laboratorium bahasa, Bambang yang hatinya galau menuju sudut meja, ternyata ia tidak ada jadwal mengajar sodara-sodara, tadi itu hanya alasan saja demi menghindar dari adegan yang membuat hatinya patah. Direnggutnya kertas dari tumpukkan buku di atas meja, lalu dengan wajah hijau kuning kelabu, ia pun mulai menggoreskan sebuah puisi di atasnya *bagaimanapun, ia seorang yang berwajah Ahmad Albar berhati Pasha Ungu*.

Dan inilah puisi sendu hasil karyanya :

Banting
Pyar..
Krompyang
Prangg
Banting keras-keras
Luahkan saja emosi yang ada
Keluarkan saja racun dari kepala
Luapkan saja euforia gila
Ungkapkan
Segila-gilanya
Banting
Bantai
Bacok
Cincang bila perlu
*Emang daging bistik*
Jangan pikirkan lagi borok-borok dipikiran
Hancurkan saja
Banting keras-keras
Setelah itu
Buang jauh-jauh
Persetan dimana tempatnya

Yang penting plong lepas banting

Ada yang bisa saya banting?

***

Sore itu rumah Ipie sudah ramai. Dari sejak beranda hingga profil, eh hingga dapur, banyak teman-temannya dari kampus BBAP dan teman main di kampung Melatipelayu datang untuk berbuka bersama di rumahnya. Ipie sibuk mencla sana mencle sini, sesekali menyapa tamu yang datang lalu leeppp masuk lagi ke dapur periksa makanan yang akan dihidangkan.

Di ruangan yang cukup luas itu nampak polwan Nita sedang berbincang dengan Reny dengan akrabnya :
“Eh mana solmet lo si pak Lurah ?” tanya Reni sambil betulin wiper di kacamatanya.

“Lagi studi banding ke Belanda” jawab Nita dengan tenang, siap-siap mendengar celetukan Reny yang kadang-kadang sering tak terduga.

“Apa ? studi banding ? ke Belanda ? huwaaaaaaahahaaahaaaaaaa….haaaaahahahahahaa……. apanyah yang mau disetudi-in ? apanya yang mau dibandingiiiinnn..? tanya Reni seriuss.

Nita kikir kuku, lalu menjawab dengan bangga:
“Ya banyak lah, seperti misalnya kenapa di Belanda kincir anginnya koq disimpen di lapangan rumput yang luas, di Indonesia koq ditaro di atap toko roti. Trus kenapa cewek Belanda jaman baheula pada pake blangkon, di Indonesia yang suka pake blangkon kan cowok ya” jawab Nita sambil merlirik Mr.Nono.

“Lhaa, memang ada gitu ?” Reny balik heran

Sementara di sudut lain terjadi percakapan serius antara Febbie dan Aniez,
Aniez :”Eh, eh Feb, liat tuh si Dedi dateng bareng Wewet, ada apa yaaa…?”

Febbie :”Tauk, biasa aja kali, si Dedi mau tepe-tepe lagi, dasar nggak insap-insap tu anak” Jawab Febbie sambil poto-poto diri sndiri aneka gaya *obsesi jadi MPer ternarsis* sampe nggak sadar saking heboh ngegaya, tiba-tiba nyenggol Bambang yang sedang lewat di belakangnya. Febbie kehilangan keseimbangan, hampir saja terjatuh jika Bambang tidak dengan sigap menangkap tangannya dan menariknya kedalam genggaman tangannya.

Seketika dunia berhenti berputar, semua orang nampak terdiam dalam aktivitas terakhirnya *ada Aniez yg siap-siap melahap keripik cabe, ada Ipie yang lagi angkat panci sup panas, ada mb.Arie yang lagi tanggung mau buka acara, ada ustadz Omali yang lagi siapinn ceramah, ada Arnie yang lagi loncat dari kursi ke karpet,pose melayang deh jadinya dan sebagainya*.

Berdua mereka saling menatap, sama-sama terseponah. Dalam hati Febbie yang dag dig dug derrr berkata :”Gue senyumin ahh”. Dalam hati Bambang yang dugderan berkata :”Senyummu mengalihkan duniaku”.

Sekejap saja, namun mampu membuat hati keduanya seperti diklakson truk tronton, kaget namun gak bisa apa-apa. Keterpanaan itu terhenti akhirnya karena suara tuan rumah Ipie yang mengajak teman-temannya berkumpul karena waktu adzan maghrib sudah dekat. Dan setelah mereka berkumpul melingkar di ruang tengah rumah Ipie, maka mulailah Ipie membuka acara.

“Assalam
u’alaikum teman-teman, alhamdulillah hari ini kita bisa berkumpul disini, untuk bisa mengikuti acara buka bersama di rumahku. Senang rasanya temen-teman bisa datang ke tempatku, nanti bisa mencicipi masakanku hasil belajar bertahun-tahun dari Chef YUNA !”

Ipie sengaja mengeraskan kata Yuna dengan harapan temen-temennya cemburu dikira Chef terkenal di tipi, padahal maksudnya Yuna itu singkatan dari Yuyun Herlina, ibu PKK di kampung Melatipelayu.

“Nah teman-teman, sebelum waktu berbuka puasa tiba, mari kita dengarkan dahulu taushiyah dari ustadz kita semua yaitu ustadz Omali, kepada pak Ustadz kami persilahkan” Ipie mundur, memberi tempat kepada ustadz Omali yang bersorban biru hadiah dari kejuaraan MP di Pejaten.

Dengan tenang dan terlebih dahulu berdehem panjaaaaanng sekali, Omali memulai ceramahnya :
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”

“Alaikumsalaaaaaaaaammmmmmmm….warohamatulohi wabarokatuh” jawab pemirsa, eh hadirin dan hadirot Melatipelayu yang segitu-gitunyah.

Omali melanjutkan ceramahnya :
“Untuk acara kali ini, saya akan menyampaikan tentang apa-apa saja yang dapat membatalkan puasa. Setuju bapak-bapak ibu-ibu ?”

“Setujuuuuuuuu……..”
Jawab audience, ada Ardhee yang langsung menguap ngantuk, ada Vita yang sibuk tepuk bunuh nyamuk lewat, ada Ohtrie yang sibuk nyari channel radio di Zimbabwe nyari suara adzan maghrib, ada Raya yang siapin 12 kresek buat bawa sisa makanan pulang.

“Begini sodara-sodaraku, sesungguhnya salah satu penyebab batalnya puasa itu adalah DIAMMMM !!!”
tiba-tiba Omali mengucapkan kata Diam dengan bentakan. Semua hadirin kaget, terdiam seribu bahasa, Ipie pegangin tutup panci yang mau jatoh.

Omali meneruskan kembali ceramhnya dengan nada lembut :
“Maksud saya, salah satu penyebab batalnya puasa kita itu adalah diam. Tau kenapa saudara-saudara ? hayooo tau nggaaakkkkk ?”.

Semua hadirin menggelengkan kepalanya, kok kenapa diam bisa membuat batal puasa ?. Maka ustadz Omali pun meneruskan kembali taushiyahnya.

“Salah satu yang membatalkan puasa itu adalah diam. Misalnya, diam-diam nyuapin kolak pisang ke mulut di siang hari. Diam-diam masukkin nasi padang pake rendang sama lalab ijo, pake kerupuk kulit, diam-diam nyeruput es buah di warung, diam-diam suit-suitin duren lewat *kata Omali sambil ngelirik Dekmanis* dan segala diam-diam lainnya”.

Belum sempat ustadz Omali menyelesaikan ceramahnya, tiba-tiba terdengar suara adzan mengalun, rupanya Ohtrie berhasil menemukan channel radio di Afrika yang memperdengarkan suara Adzan, padahal di perumahan Ipie orang yang mau adzan di mesjidnya baru mandi.

Begitu terdengar suara adzan maghrib, serentak semua berkata :”Horeeeeee…………”

Ustadz Omali marah mendengar semua ini :
“Huussss…..masa dengar adzan maghrib bilang hore ? alhamdulillaah begitu. Ayo, kita lekas berbuka karena ada dalil yang mengatakan begini :
“Barang siapa yang pada saat berbuka masih sibuk bekerja, maka orang itu termasuk golongan orang-orang yang bekerja lembur !”

Naah makanya ayo kita berbuka puasa, alhamdulillaaaaah”

T A M A T

Ikutan lombanya Tiga Dara Cantik aaaahh……
Yang namanya aku pinjam maaf yaaaa…..

Keterangan :Puisi dosen Bambang dipinjam *nggak bilang2* dari blognya id Bambang Priyantono

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s