Hari Kebangkitan Kesadaran Nasional

Posted on

Geli sendiri membaca twitnya mas Thrie, aku kutip sedikit ya :

“dalam rangka “TheErection Day-harkitnas” mari galakkan mlengos berjamaah”. Hehehe
*sambil kebat-kebit, moga-moga mas Thrie nggk keberatan twitnya aku kutip disini*

Tapi lumayan menyentil kesadaran, oh rupanya kemarin-kemarin hari kebangkitan nasional rupanya. Sambil loading otakku sebentar sebenarnya, apanya yang sudah bangkit ya ? maksudnya secara nasional. Hal rada heboh terakhir yang aku dengar kemarin so’al kongres PSSI yang masih ricuh dan polemik kasus korupsi di tubuh kemenpora sepertinya masih ramai di media. Hmm….masih saja negeriku…

Tapi begitulah kenyataan yang mesti kita hadapi, baik dan buruk tetap negeri sendiri. Seperti juga baik dan buruk punya akun di MP ini, tetaplah MP ini tempat kita berkumpul, tempat berbagi isi hati dan fikiran, tempat jualan *buat para OS*, tempat lempar-lemparan panci, tempat curhat di QN, tempat segala yang kita bisa buat sekuat MP bisa memfasilitasi.

Belakangan ini, muncul beberapa teka-teki di benakku dari beberapa postingan teman. Setelah beberapa lama mencoba hiatus dari rumah virtualku ini rupanya ada beberapa kejadian yang membuat beberapa postingan akhir-akhir ini nampak emosional. Meski tidak mengikuti secara detail permasalahannya, dan aku sendiri tidak berminat untuk itu,karena tahu ujungnya bagiku :”Nggak ada manfaatnya, selain dari sekedar tahu dan tidak bisa kasih solusi apa-apa,karena memang masalahnya sudah lewat, entah lewat secara baik atau tidak”.

Tapi selalu setiap apapun itu bisa jadi pelajaran. Buatku, dari beberapa pengalaman di MP ini khususnya dan dari pengalaman seorang sohib MP juga,bahwa menjaga persahabatan yang kita punya itu memang jauh lebih berat dari sekedar pada saat memulainya. Bahwa betapa mudahnya kesalah fahaman dan rasa tidak enak bahkan konflik itu bersumber dari sesuatu yang kita katakan dan kita tuliskan atau kita posting. Dari sesuatu yang kita anggap sepele, dan tanpa kita sadari hal itu “melukai” orang lain kecil ataupun besar.

Terkadang kita sulit bangkit dari “kekerdilan diri kita sendiri dalam mensikapi diri dan orang lain”.Sering kita lebih menuntut hak diri daripada memenuhi kewajiban kita kepada orang lain. Sering kita lupa, bahwa disamping hak-hak pribadi yang kita punya,ada juga hak-hak publik yang harus kita sadari dan genapi.

Sering terheran, jika ada ungkapan kekecewaan baik yang disampaikan secara terus terang maupun tersirat dari suratan yang halus, tapi orang itu sendiri melakukan hal yang sama kepada temannya yang lain. Dalam kata lain, egois. Terlihat menggelikan, tapi sebetulnya tidak lucu.

Aku fikir, ini masalah bangsa ini juga secara umum. Dimana ego diri masih menjadi belenggu yang membuat bangsa ini belum bisa bangkit dari keterpurukan dalam berbagai sektor. Mendahulukan benarnya sendiri, pinternya sendiri,merasa bisanya sendiri. Tidak memperdulikan pendapat, perasaan, pemikiran orang lain. Apatah lagi perduli pada kebenaran hakiki yang masih katanya.

Bahwa sama sekali steril dari konflik juga hal itu tidak mungkin, tetapi kalau konflik itu terus ada dan berkepanjangan, bahkan bersambungan tembus generasi, maka hal itu harus diwaspadai sebagai sebuah “kemelengosan” *kata mas Trie*,yang saya terjemahkan sebagai sebuah ketidak perdulian lagi terhadap nilai, tak perduli terhadap norma, tak perduli lagi pada hati nurani. Yang jika hal itu dibiarkan dalam keadaannya yang seperti itu bisa jadi kehancuran nggak usah ditunggu terlalu lama lagi.

Yah, setidaknya kan bisa dimulai dari pribadi-pribadi kita sendiri dulu. Bersama kebersihan hati nurani dan cita-cita besar kita, jika hal itu diiringi oleh kerendahan hati, mau mendengarkan (bukan sekedar mendengar) dan memperhatikan pendapat dan pemikiran orang lain, mau menerima kebenaran, walaupun bisa jadi hal itu datang dari orang yang kita tidak sukai.

Tidak perlu pengorbanan hanya untuk sekedar meraba perasaan dan keinginan orang lain, cukup kerendahan hati, mau mengakui bahwa diri kita yang bersemangat dan punya cita-cita luhur ini adalah juga tempatnya salah dan khilaf. Sama sekali bukan pengorbanan, bahkan hal itu adalah kebutuhan setiap manusia yang ingin hidup secara baik berdampingan dengan sesamanya terlebih dalam keadaan sedang membangun peradaban.

Berbeda-beda keinginan, beda gaya, beda rupa, beda agama, beda karakter, dan beda-beda lainnya tidak harus membuat kita selalu hidup dalam konflik, dalam perseteruan, dalam rasa tidak nyaman satu sama lain. Sekali-kali berbeda pendapat, sekali-kali tersinggung, sekali-kali marah bolehlah,kita toh bukan sekumpulan malaikat, tapi ciri orang yang mau belajar dari kesalahannya itu adalah ia tidak ingin mengulangi kesalahannya untuk yang kesekian kali. Selalu ada upaya perbaikan.

Semoga moment hari kebangkitan nasional ini bisa menjadi ajang untuk bangkitnya kesadaran kita, untuk bisa hidup lebih baik, hidup yang sebisa mungkin bermanfaat bagi orang lain, hidup yang tidak mengedepankan ego pribadi. Hidup yang mencahayai kehidupan itu sendiri.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, *biarpun telat, gapapa yaa ^_^

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s