AADC [Asal Ada Duitnya, Cyiiin… ]

Posted on

Memperhatikan dengan asyik.

Katanya, gara-gara kasus kriminal oleh oknum debt collector kemarin, Bank Indonesia (BI) memberikan sanksi kepada Citibank untuk tidak menggunakan tenaga outsourcing dalam jasa penagihan hutang kartu kredit (debt collector). Namun untuk bank lain BI masih mempelajari dahulu dan sudah bicara dengan Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI). Alamat akan ada tambahan pengangguran baru lagi dari kalangan pekerja penagih hutang nih.

Melihat kasusnya, memang membuat hati tersentak. Koq tega ya, menagih hutang sampai harus membunuh segala. Alih-alih uangnya kembali, yang ada malah si pembunuh harus terpenjara akibat perbuatannya dan fihak yang menyewa dalam hal ini Citibank harus menanggung akibat hukumnya.

Tapi diluar kasus ini ada yang menggelitikku. Bagaimana bisa ada profesi semacam debt collector ini ? Dan bagaimana keberadaannya ternyata sangat dibutuhkan oleh fihak-fihak pemberi pinjaman uang seperti bank dan semacamnya ini maupun produsen-produsen barang dengan sistim pembayaran angsuran ?. Sedangkan bank atau semacamnya “hidup” dari bunga yang mereka tarik dari uang yang mereka pinjamkan. Begitupun produsen-produsen barang dengan sistem pembayaran angsuran. Mereka membutuhkan nasabah yang menitipkan uangnya kepada mereka maupun nasabah yang meminjam dari uang yang ada pada mereka. Yang karenanya dengan gencar mempromosikan fasilitas semacam kartu kredit yang sekarang sedang diperbincangkan itu dan pada kenyataannya kebanyakan telah memicu perilaku konsumtif dari pelanggannya. Sungguh, tak ada yang mengherankan.

Kita hidup di dunia bayang-bayang. Bayang-bayang kesenangan hidup yang semu. Dimana dunia ini seakan hanya milik orang yang berpunya. Punya uang yang banyak bung, apapun bisa kau dapatkan. Makanan minuman lezat,pakaian indah dan mahal, kecantikan dan ketampanan, bahkan kesehatan. Tak percaya ?

Tak terhitung kelezatan ditawarkan dalam keseharian kita dan jika ingin mencecapnya maka tak kan bisa jika tak membayar harganya. Segala harga bahan makanan pokok terus merangkak meninggi, semakin jauh. Barang segenggam cabe rawit atau bawang merah pun yang kedudukannya tak lebih hanya sekedar bumbu di dapur-dapur kita telah membuat sesak nafas saat menukarnya dengan uang yang harus kita serahkan kepada penjualnya. Selembar uang berwarna biru bertulis angka Lima Puluh Ribu Rupiah telah sangat kecil nilainya jika harus dibagi berbilang hari untuk memenuhi kebutuhan makan anak dan istri.

Berapa banyak orang di negeri ini harus memilih menadah nasi bekas orang untuk kemudian diolahnya kembali agar masih bisa dimakan. Orang menyebutnya nasi aking. Berapa banyak anak-anak menderita busung lapar bahkan mati dengan menyandang gelar bergizi buruk. Tak sakitkah hati kita memandang tubuh-tubuh mungil tak berdosa itu hanya tinggal kulit membungkus tulang ?

Jangan dikata untuk membeli pakaian yang pantas beraneka rupa. Bahkan untuk mempertahankan kesehatan pun sekarang ini seolah hanya bisa dimiliki oleh orang-orang berpunya saja. Ingin jajanan yang lumayan enak di lidah dan murah harganya ? silahkan membelinya tak ada yang membatasinya. Hanya bersiap saja, dengan segala resikonya. Tumpukan lemak dan kolesterol dari minyak goreng yang lama tak diganti penjualnya, atau pewarna tekstil dan bahan kimia lainnya bergentayangan menghantui kita.

Jika menyadari bahayanya maka hanya bisa menggigit jari. Makanan organik hanyalah mimpi. Bagaimana tidak, jika mereka dijual dalam harga yang tinggi. Satu kilogram harga beras organik dihargai 15.000 rupiah. Sedang daya beli masyarakat kebanyakan tidaklah sebesar itu. Maka rakyat kecil harus puas dengan beras kualitas biasa-biasa saja atau bahkan sangat biasa. Belum lagi sayuran dan buah-buahan dengan stempel organik. Hingga saat ini, akuilah hanya masyarakat dari kalangan tertentu yang bisa menikmatinya.

Bagaimana halnya dengan suplemen dan obat-obatan herbal ? Atau alat-alat kebugaran untuk kesehatan yang banyak ditawarkan ? Dengan segala promosinya masyarakat diiming-imingi kesehatan dan kebugaran yang paripurna asal mau membayarnya dengan harga yang fantastis. Tak terhitung perusahaan-perusahaan suplemen atau alat kebugaran dengan sistem penjualan MLM berlomba merebut hati konsumennya, dan lucunya dengan harga yang menyesakkan jiwa.

Apakah mungkin rakyat kecil bisa membelinya ? Sedang untuk makan hari ini pun mereka tak tahu apakah bisa memperolehnya atau tidak.

Siapa yang tak ingin nampak cantik dan tampan ? Apalagi di zaman yang telah sedemikian maju dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi semacam ini. Dimana akses orang untuk terhubung dengan publik semakin besar dan kemungkinan untuk dikenal dan menjadi populer pun semakin terbuka. Setiap orang ingin tampil dalam keadaan terbaiknya bukan ?

Tak usah khawatir, berbagai bahan dan alat kecantikan dan salon-salon perawatan wajah dan tubuh telah berserakan dimana-mana. Berbagai tempat senam dan gym pun bertebaran di kota-kota. Hanya satu saja syaratnya, kau sanggup membayarnya. Di zaman serba instan ini apa yang tak bisa diubah dengan uang ? Bagaikan bebek buruk rupa berubah menjadi angsa yang cantik kini bukanlah impian. Dengan uang berjuta-juta siapapun bisa mendapatkannya.

Orang bilang, :”Asal ada duitnya aja, Cyin…” *bergaya melambai*

Yang tak punya uang, cukuplah dengan penampilan apa adanya. *Kasus pembobolan bank terakhir membuktikan masih banyak orang menyukai penampilan yang apa adanya koq, dibanding penampilan yang wah *sampai ngiler liatnya* tapi palsu :D*

*Sigh….*

Akankah kita menyerah pada kendali zaman yang menyerahkan kita pada kekuasaan uang ? dimana kita tak bisa lagi menikmati indahnya hidup yang secukupnya sesuai kebutuhan hidup bukan kebutuhan nafsu ?.

Hidup berlimpah puja puji dan kemewahan dari ladang berhutang sana-sini bukanlah kehidupan yang menentramkan.

Entahlah….

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s