Akan Indah Pada Waktunya ♥

Posted on

Bertemu orang yang kita cintai dan mencintai kita dan berkeluarga lalu memiliki keturunan sepertinya sudah merupakan satu bangunan kebahagiaan yang dikenal dan diinginkan orang-orang.

Setiap kita menginginkannya, bahkan jauh sejak usia masih kanak-kanak.
Saat kaum Shinta dengan fikiran yang masih polos itu mulai merasakan kerinduan untuk bisa bermain dengan kawannya dari kaum Rama, ‘bangunan cinta’ itu begitu saja muncul sebagai sebuah mimpi yang sering mereka terjemahkan dalam permainan yang mereka sebut sebagai main rumah-rumahan atau main ibu-ibuan .

Seperti cita-cita yang walaupun tak pernah disebut seperti anak-anak menyebut ingin menjadi dokter atau insinyur dalam list cita-citanya, namun ia hadir dan melembaga dalam jiwa sampai usia dimana kita merasa layak untuk mendapatkannya. Ia selalu menjadi spirit yang membayangi hidup.

Namun, seringkali kenyataan tidak sesuai dengan harapan, bahkan jauh dari apa yang diperkirakan. Tidak sama perjalanan cinta anak cucu Adam dan Hawa dengan kisah cinta eyang kakung dan eyang putrinya ini, dipertemukan dengan sosok tautan hati dalam cara dan rentang waktu yang tak sama. Banyak yang nampak begitu mudah menggapainya,namun tidak sedikit juga yang terlihat sulit untuk menjangkaunya.

Pada faktanya, dan aku sering terpaku dalam takjubku, bahwa ada banyak ketegaran dan kesyukuran yang membuatnya menjadi indah dalam pribadi-pribadi yang tidak berputus asa terus mencari untuk menemukan sosok pendamping sejati. Rentangan masa antara pekerjaan mencari hingga menemukan itu bukanlah sesuatu yang mudah dilalui apabila orang-orang di sekitar memandang sinis, bertanya dengan nada penuh tuntutan, seakan-akan “mengikat hati” seseorang itu adalah hal semudah menangkap kupu-kupu, bahkan untuk menangkap kupu-kupupun diperlukan ikhtiar dan waktu bukan ?.

Dalam halku, sering, aku jauh lebih rapuh dari teman-temanku. Apalagi saat melalui aku mereka berharap Tuhan dapat mempertemukannya dengan belahan jiwanya. Tentu saja akan kumanfaatkan waktuku dan berbagai ikhtiarku agar dapat turut serta dalam rombongan kebahagiaan itu. Namun jika usahaku terantuk batu taqdir dan belum dapat kuhantarkan sebelah sayap surgawi itu untuk temanku, maka harus selalu siap tissue di saku untuk sekedar meredam air mataku yang seringkali tak melihat tempat dan waktu. Terutama disaat aku sendirian, apakah berjalan kaki atau berkendaraan, tiba-tiba aku harus menahan tangisku, seakan-akan hal itu adalah musibah besar. Sementara temanku sendiri bahkan tidak terlalu memikirkannnya, begitu katanya, bahkan dengan kekayaan rasa syukurnya mereka lebih berbahagia dibandingkan dengan keadaanku.

Dari pribadi mereka aku mendengar Tuhan berbicara, bahwa DIA sedang “memelihara” belahan jiwa mereka hingga waktu mempertemukannya. Sama seperti Tuhan memelihara mereka untuk belahan jiwanya.

Maka tiada yang perlu dikhawatirkan, akan datang undangan Tuhan untuk membangun mahligai cinta dalam sebuah pernikahan.
Yang diperlukan hanyalah tetap setia dalam kebaikan, menjadi pribadi yang pantas untuk disandingkan kelak dengan sosok terbaik yang dipilihkan Tuhan.
Benarlah kata orang, segalanya akan indah pada waktunya.

Tetaplah bersinar saudaraku, dengan cintamu

_____________________________
Gambar illustrasi dipinjam dari sini

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s