Valentine di Melatipelayu [FF / Fiksi Fanjang]

Posted on

Kata orang, bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Dalam memeriahkan moment ini, maka izinkanlah saya dari Zaffara Production House mempersembahkan sebuah tayangan berjudul Valentine di Melatipelayu.

Selamat menikmati * jreng jreng jreng…!!!*

Di sebuah komplek kost di desa Melatipelayu, di kamar kost-annya yang sepi, Dekmaniezt asyik bersiul, mengikuti suara musik di MP3-nya. Di depan cermin ia sibuk me-roll bulu matanya. Dek sangat terobsesi membuat bulu matanya lentik seperti bulu mata pemain film India Mulan Jameela, atau seenggaknya bulu mata pemilik salon Ghotrex.

Segala cara sudah ditempuhnya dari mulai merebus air di dandang yang dicampur lilin bekas mati lampu semalam, lalu uapnya diarahkan ke bulu matanya, atau menjepitkan bulu matanya itu di engsel pintu kost-annya biar mantap katanya, bahkan sampai pergi ke “orang pintar” minta disembur dengan ajian mantra-mantra biar bulu matanya kembali lentik seperti semula. Namun tetap saja hal itu tidak membuat bulu matanya melentik sedikitpun.

Itu terjadi sejak Dek terlalu suka coba-coba di salon langganannya Salon Othrie , dimana ia pernah merebonding bulu matanya saat akan nonton konser musik metal, *biar keren sesuai dengan jiwa metal* sayang, bulu matanya ga bisa balik lentik lagi terus lurus dan kaku persis seperti sapu ijuk.

Sedang asyik memasang roll-nya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Tok tok tok !

Dek
:”Masuk ajaa, koncinya ga dipintu, eh pintunya ga dikoncii !”
Pintu terbuka dan masuklah Reny Payus pemilik kost yang sudah akrab dengan Dek, maklum Dek adalah kontraktor abadi kost-kostanan Koza itu, abadi karena setiap bulan bayarannya tak pernah lunas, jadi karena hutangnya Dek itulah Reny tak bisa berkutik kecuali membiarkannya terus kost guna menunggu bayaran sewa kost bulan-bulan sebelumnya.

Reny
:”Ngapain Dek ?”
Begitu melihat apa yang sedang dilakukan oleh Dek, Reny tak dapat menahan ketawanya :

Reny: “Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahahahahahahaah……huwaaaaahahahahaaahaha……haaaaaaaaaaaaaaaaaaaahahahahahahahaha Glek…kkkkk, ehk ehk…” Tiba-tiba Dek melempar kue nastar ke mulut Reny yang sedang menganga karena tertawa terlalu kencang sehingga terbatuk-batuk karenanya.

Dek :”Sirik aja lu !, ga boleh liat orang cantik ya”. Dek melet.

Reny :”Huahahaha…iya deeeh.Ehemm…mmmm…ehk…hmmm duh, enak juga ni kuenya, bagi lagi dunkz. Eh Dek Dek…, bayar dong sewa kost-nya,udah dua bulan taoo, gue perlu nih pengen nyalon buat palentinan”.

Dek :”Kagak punya Reeen, Kalo punya juga udah gue pake ngeriting ni bulu mata ke salon niiih, jawab Dek sambil ngebanting rolnya karena kesal rollnya susah terpasang.
Reny cemberut mendengar jawaban Dek yang sudah ia duga. Tapi tak lama, Wajah Reny berubah, bibirnya tersenyum mengerikan *tanda-tanda kalau ia punya ide*.

Reny :”Dek, bentar lagi kan hari Valentine yah, kalo palentinan di kota kan mahal. Gimana kalo kita bikin acara palentinan aja di kantor kelurahan ?”
Dek tersentak, matanya melotot, membuat roll matanya yang sudah susah-susah terpasang lepas lagi.

Dek :”Gila lu ya Ren,ga bakalan dikasih lah. Secara itu kan kantor kelurahan masa dipake Valentinan ? lagian gimana minta ijinnya ?”

Reny tertegun, hatinya mengiyakan teguran Dek, tapi senyum mengerikan itu muncul lagi di bibirnya. Reny meloncat dari kasur, lalu berbisik di telinga Dek. Dek mendengar dengan seksama, apa yang dibisikkan oleh Reny. Selesai berbisik Reny melihat Dek tersenyum. Di ruangan itu sekarang ada dua senyum mengerikan, pertanda ada rencana besar sedang berjalan dalam benak keduanyaaa……*suara musik horor*

***

Hari sudah malam, tapi suasana di rumah Lurah Marto nampak masih ramai. Seperti biasa, setiap malam Sabtu, rumahnya selalu didatangi oleh wakil dari RW-nya. Melingkari meja bundar duduk Lurah Marto, sesepuh desa Pakdhe DJ, para ketua RW, Bambang, Rifky, Hendra, Tampah, Ketua Sanggar seni Pak Joyo, ketua DKM Aa-Gam ( Dewan Keamanan Melatipelayu ) dan Syech Deba Pirez *seorang mantan model yang sudah insyaf sejak dua minggu yang lalu, kini kemana-mana dia selalu mengenakan baju kebesarannya yaitu baju yg betul-betul kebesaran alias longgar ala Syech Puji*.

Mereka nampak serius berdiskusi, membicarakan kemerosotan moral di kalangan anak-anak muda desa Melatipelayu yang nampak terjadi akhir-akhir ini, seperti misalnya anaknya Reny bernama Raffa perosotin sarungnya anaknya Amel yaitu Aghnat waktu pulang mengaji. Atau Raya yang sudah lulus kuliah tapi masih suka main perosotan di TK membuat anak-anak TK menangis karena mainannya direbut Raya, malah kalau lagi senang Raya biasa perosotan di tiang listrik *itu sebabnya dia memiliki site dengan tag Myelectrical Diary, itu krn kesukaannya perosotan di tiang listrik yang kadang-kadang tiang listrik itu dipakainya juga untuk menyanyi ala pemain film India buat senderan kalau hatinya sedang gundah*.

Sedang serius berdiskusi, seorang Satgas *sebetulnya Hansip sih* bernama Priyo mendekat dan nampak berbisik kepada Lurah Marto cukup lama. Lurah Marto terdiam lalu bertanya dengan suara berat :

Lurah Marto :”Perempuan ? siapa mereka ?”,
Satgas Priyo berbisik lagi.

Mendengar Lurah Marto berkata ‘perempuan’ sontak semua peserta rapat yang ngobrol dengan sebelahnya hening sambil dag dig dug berharap yang sedang dibicarakan cantik-cantik *padahal mereka sedang membicarakan kemerosotan moral*. Apalagi pak RT Bambang matanya mulai kelap kelop, begitu juga pak Joyo yang tangannya mendadak sibuk merapihkan rambutnya kiri kanan.

Lurah Marto :”Ya sudah, suruh mereka masuk Yo !”

Priyo
:” Oke ladies…., tunjukkaaannn….. pesonamu !” Priiittt Priyo meniup peluitnya *memanggil sang tamu ala Choky Sitohang*

Dan kucluk kucluk kucluk, masuklah ke ruangan itu dua makhluk manis, semua bapak-bapak di ruangan itu semakin hening memandang yang sedang melangkah masuk, terutama karena melihat kedua wanita itu, yang satu bulu matanya rontok akibat dipaksa diroll terus, satunya lagi bawa-bawa sendok semen.
Penasaran, Satgas Priyo bertanya kepada Reny :

Priyo :”Maaf jeng, ini lagi rapat kenapa jeng bawa-bawa sendok semen ?”
Reny mendelik ditanya seperti itu, dan dengan juteknya berkata :

Reny :” Buat ngupil !!! ” Reny ngeloyor sambil mengibaskan rambutnya bak bintang iklan peditox.
Priyo walaupun seorang satgas yang sudah dilatih menghadapi para pendemo paling brutal sekalipun, dijutekin begitu oleh Reny keder juga, dengan merinding ia pun menjauh.

Begitu melihat siapa yang datang, pak Joyo hampir saja keselek singkong goreng yang sedang dikunyahnya. Ingat dengan peristiwa di warung pak Inyong beberapa minggu yang lalu.

Peristiwa itu sangat traumatis untuk pak Joyo. Setiap mau makan ingat Reny, setiap mau tidur, ingat Reny, setiap mau buang sampah ingat Reny, setiap mau kerjabakti bersihin got, ingat Reny, setiap ada tukang bajigur kesukaannya lewat ingat Reny. Dan semua itu membuatnya ketakutan. Dia pernah bersumpah tak akan melewati jalan yang dilewati Reny.

Tapi kali ini dia tak bisa berkutik, oleh s
ebab itu walaupun stress, walaupun keringat dingin terus mengucur, walaupun singkong gorengnya tetep abis karena lagi lapar, tapi pak Joyo mencoba bertahan tetap duduk karena tidak enak dengan bapak-bapak yang lainnya. Sementara orang yang dia takuti nampak santai saja, malah sempet-sempetnya kikir kuku segala *pake sendok semen*.

Setelah dipersilahkan duduk oleh Lurah Marto, maka mulailah keduanya menyampaikan maksudnya.

Dek :”Begini pak Lurah, kedatangan kami kemari tidak lain dan tidak bukan,adalah untuk meminta izin kepada pak Lurah untuk mengadakan keramaian menghadapi hari Valentine yang sebentar lagi akan datang. Kalau diizinkan, kami ingin meminjam kantor kelurahan, kan ada aula nya ya pak, kami mau pake. Apakah pak Lurah mengizinkan ?”

Belum sempat Lurah Marto menjawab, tiba-tiba Syech Deba meloncat dari kursinya membuat semuanya kaget :

Syech Deba :”All izz well, all izz well, all izz well eeehh salaah, astagfirullooooh *maklum baru insap dua minggu jadi suka lupa nyebut*. Apa itu Valentine ? Tahukah adek Reny dan Dekmaniezt ? kalau Valentine itu lebih banyak mudorotnya daripada manfaatnya, betul tidaaaak ? *pake intonansi ala Aa Jimmy*. Tidak bisa, tidak bisa ! kiiiita tidak boleh mengadakan acara itu di desa ini, pan kita sedang membicarakan kemerosotan moral , betul tidaaak ?” tanya Syech Deba dengan semangat.

Lurah Marto yang bijak melambaikan tangannya tanda meminta Syech Deba duduk kembali.

Lurah Marto
:”Nah, kalian dengar sendiri pendapat dari Syech Deba kan ? belum belum sudah ada yang nggak setuju. Ada yang bisa kalian tawarkan yang lebih baik untuk acara itu ?

Dekmaniezt dan Reny saling berpandangan, lalu Reny maju dan berkata :

Reny :” Jangan khawatir pak Lurah dan juga Syech Deba, kami tidak akan membuat acara yang membuat masalah. Malah kami akan membuat acara valentine setradisionil mungkin, malah kalo bisa relijius. Kalau biasanya valentine dirayakan dengan hura-hura, bahkan huru-hara, kali ini kami akan membuat valentin yang hore-hore”.

Semua memperhatikan Reny menunggu kelanjutan dari kata-katanya, sebetulnya Reny sendiri tidak yakin dengan kata hore-horenya tapi kadung sudah keluar dari bibirnya, terpaksa Reny berfikir keras untuk meyakinkan para bapak-bapak itu. Memperhatikan suasana yang kurang menguntungkan, Dek melanjutkan bicara.


Dek
:”Maksud dari Reny itu begini pak, jadi kita akan mengadakan acara valentine yang berkualitas, yang bisa memajukan warga kita sendiri. Semua potensi akan kita akomodir, misalnya …….bla bla bla bla, berlanjutlah diskusi itu membicarakan rencana valentine-an di kantor kelurahan hingga malam hari.

***

Siang itu sangat terik, Omali menyeret motornya yang mogok tiba-tiba. Dengan keringat yang terus mengucur dari keningnya dan sekali-kali dilapnya dengan handuk tercintanya, ia terus mencari pom bensin terdekat. Di belakangnya Anis dengan wajah menekuk dan rambut yang acak-acakan karena saat motor itu mogok mereka sempat terjerembab ke pinggir jalan yang penuh dengan gerobak penjual rambutan.

Anis
:”Mas Omali siiiih, makanya kalau beli motor itu, jangan beli motor abal-abaal, begini nih jadinya” Gerutu Anis kesal sambil membantu mendorong sepeda motor Omali yang sering dipanggil si cungkring itu.

Omali yang dikenal sebagai orang yang sangat sabar , tak menghiraukan gerutuan kekasihnya. Bagaimanapun ia sebetulnya tak ingin mengecewakan wanita yang baru saja mengisi hatinya sejak kejadian tabrakan beberapa bulan yang lalu. Rupanya kejadian tabrakan dulu itu telah menyisakan bekas yang mendalam di hati mereka berdua. Sejak pertemuan mereka dalan insiden itu, Omali tak pernah bisa melepas bayangan wanita penyuka cabe yang manis bernama Anis itu.

Berbagai cara dilakukannya untuk bisa menaklukan hati wanita pujaannya, dari mulai mengirim souvenir-souvenir seperti gantungan kunci bentuk cabe, mengirim oleh-oleh keripik cabe, memasak khusus menu Cabe asam manis tabur bubuk cabe. Kadang Omali juga ingin hadiah-hadianya itu dapat mengingatkan Anis kepadanya, oleh sebab itu di hari ulang tahunnya, Anis mendapat hadiah selembar handuk dengan bentuk kemben bergambar Hello Kitty. Itu semua dilakukan Omali semata-mata demi cinta nya yang tulus kepada Anis hingga tiba saatnya ia datang kepada orangtua Anis untuk melamarnya.

Kembali pada kejadian di awal, akhirnya mereka menemukan juga pom bensin setelah berjalan dengan menyeret motornya sepanjang lebih dari 200 kata, eh 200 langkah *maaf efek QN Ala Tobie*. Dengan nafas terengah-engah, Omali ikut mengantri dibelakang deretan orang yang akan membeli bensin. Anis pun berdiri setia disampingnya, walau hatinya belum senang karena perjalanan mereka jadi terhambat gara-gara motor Omali kehabisan bensin.
Akhirnya, tiba giliran motor Omali untuk diisi bensin, dengan suara mulai tegar karena capeknya sudah berkurang, Omali berkata kepada penjual bensin berseragam merah itu :

Omali : “Setengah !”

Penjual bensin :” Mmm maaf mas, setengah apa ?”

Omali :”Setengah liter !” jawab Omali ketus

Anis yang ikut mendengar transaksi Omali dengan penjual bensin itu kaget dan refleks kepalanya menoleh menatap lelaki itu dengan tanda tanya. Omali yang menyadari dirinya diperhatikan kekasihnya tersenyum mesra dan berkata dengan lembutnya :

Omali :”Hemmat Beib, hemmat”

Omali berkata dengan tenang sambil tersenyum kepada Anis, Omali pun lalu membayar sejumlah uang kepada penjual bensin yang keningnya berkerut menerima uang recehan dari Omali. Lelaki langsing itu kembali menutup tangki bensinnya dan akhirnya mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Setiba di halaman rumah Anis, Anis turun dari boncengan. Sebelum masuk ke dalam rumah, Omali bertanya :

Omali :”Beib, nanti malam, aku jemput ya ke acara valentinan di kantor kelurahan ?”
Anis mengangguk malu-malu tanda setuju, melihat Anis mau diajak kencan, Omali pun tersenyum maniiiiiiisss sekali. Dan sebelum masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Omali memegang tangan Anis, Anis salah tingkah tangannya dipegang mesrta oleh Omali seperti itu. Tapi, Anis heran lama-lama cemilan cabe yang belum habis di tangannya pelan-pelan berpindah tangan ke tangan Omali. Omali tersenyum dan berkata :

Omali :”Cemilannya kan belum abis, buat besok lagi ya. Biar besok ga usah jajan. Hemmat Beib” ujar Omali dengan lembut dan senyum yang manis.

Anis cemberut, tak rela keripik cabenya diambil lagi oleh Omali, tapi apa daya Omali lebih teguh pendirian. Maka dengan terpaksa Anis pun melepasnya. Tak lama kemudian bersama si cungkring, motornya yang ceking Omali pun melaju pulang.

***

Malam itu kantor kelurahan sangat ramai, mengalahkan keramaian Agustusan. Baru kali ini diadakan acara Valentinan secara resmi oleh warga kampung Melatipelayu, tentu saja hal ini membuat warga merasa senang walaupun ada pula yang masih curiga takut terjadi sesuatu.

Oleh sebab itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Lurah Marto menginstruksikan kepada jajarannya untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung.Ada Anto, Tedja, Nawhi *maaf belum kontak – Redaksi*, Romi, Chusnul, Ardhee, Firman, Wahyudi dan lain-lain yang diketuai oleh Ketua DKM (Dewan Keamanan Melatipelayu) Aa-Gam. Semua sudah siap di posisinya masing-masing.

Kecuali Priyo, hansip itu nampak sibuk mendekati penyanyi Raya yang lagi me
gal megol latihan tari India dekat tiang listrik. Entah apa yang mereka bicarakan, namun yang pasti hal itu membuat pak RT Bambang nampak cemburu.
Bambang menyolek Nawhi :

Bambang :”Eh Naw, ngapain tuh si “Sinyal putus” deket-deketin cewek gue ? Bukannya dia sinyalnya sinyal kuntilanak ? koq jam segini udah keliaran sih ? tanya Bambang dengan kesal kepada Nawhi.

Nawhi :”Wah ya nggak tahu lah, orang aku sibuk begini mana bisa perhatiin si Priyo”

Bambang :”Awassss ya, kalo sampe ada apa-apa gue suruh si Inem bertindak, Ineeeeeemmmmmm….”
Tiba-tiba Bambang memanggil Inem yang sesungguhnya adalah Nina. MC di acara ultahnya Lurah Marto tempo hari itu memang selain MC panggilan juga merangkap asisten rumah tangga di rumahnya pak Bambang, biasa disuruh ngepel. TApi ketika mendengar suara menggelegar memanggil namanya Nina buru-buru menyelinap, sok sibuk di tempat yang lain.

Dekorasi ruangan aula kantor kelurahan nampak romantis setelah disulap oleh ibu-ibu PKK (Pakar Kruwal Kriwel) seperti bu Tintin, bu Dewik Deph, dan bu Ita. Tema malam itu adalah Valentine Untuk Semua, terpampang jelas di latar belakang panggung dibuat sangat manis oleh PKK team. Valentine yang akan dirayakan bukan untuk percintaan anak-anak muda saja, tetapi juga cinta dan sayang suami istri, orang tua, anak-anak, orang-orang yang cukup rezeky maupun yang tak berpunya, guru, pedagang, petani, pengusaha. Pokoknya untuk semua deh. Tak heran semua warga tampak antusias berdatangan ke tempat ini. Dan dress code malam itu adalah batik.

Di sudut ruangan dekat meja tamu nampak Lurah Marto sedang menyambut kedatangan seorang gadis dengan pakaian yang sangat indah, begitu memikat. Coba kita dekati mereka, owww ternyata gadis yang sedang Lurah Marto kagumi itu adalah Yusnita Febri yang dahulu pernah menangkapnya. Rupanya telah terjadi ishlah dan rekonsiliasi diantara mereka sehingga kemungkinan malam valentiine ini akan menjadi malam yang menyenangkan untuk mereka.

Tak jauh dari mereka nampak Nina, Reny dan Dekmaniezt sedang menyusun gelas minuman mineral di meja. Mereka tampak cantik dengan pakaian terbaiknya malam itu. Sambil menyusun gelas terdengar obrolan mereka :
Nina :”Eh mb.Reny, bajunya bagus lhoo, beli dimana siiiy ?” tanyanya

Reny :”Eh ga beli lageee, biasa lah pinjem. Punya Febbie ini sebenernya. Tapi jangan bilang2 ya, ini sebenernya baju gue pinjem udah setaun yang lalu. Ndak tau Febbie nyadar apa nggak ya bajunya belon gue balikin. Semoga dia ga dateng malem ini deh.” Ujar Reny kalem sambil ngetik-ngetik HP-nya mau request lagunya Cumi.

Tanpa disadari oleh Reny, sebetulnya Febbie sudah sejak tadi berdiri di belakangnya karena memang ada perlu kepada Dekmaniezt. Dengan sinis Febbie mendehem lalu berkata :

Febbie :”Oooh jadi udah setaun yaaa. Panteees gue udah lupa. Hmmm kalo disewa’in udah dapet denda berapa tuhh”. Febbie berkata dengan alis diangkat tinggi-tinggi dan menjentik-jentikkan kukunya berlagak santai.
Reny kaget mendengar ada suara Febbie di belakangnya :

Reny : “Eh heheheh ada Febbie…. …..mmmm udah lama Feb ?, Sallliiiimmm”, ujar Reny sambil mau cium tangan *sebetulnya udah keabisan ide buat mengambil hati Febbie*

Febbie :”Ih ngapain salim salim, gak malu pake baju orang huhhh !” Febbie sibak rambut panjangnya yang dikepang ala reggae, bajunya yang casual *itu berarti baju buat ngantor, karena Febbie terkenal senang membalikan kenyataan, baju kaos buat ngantor, baju resmi buat jalan-jalan* ikut bergoyang-goyang.

Melihat situasi yang kurang menyenangkan itu Nina berinisiatif untuk menetralkan suasana :

Nina :” Eh eh acaranya bentar lagi mo mulai lho, mau tahu acaranya nggak ? ntar ada Anazkia mau buka acara, nyanyiin lagu Indonesia Raya, sendirian lhoo.
Trus Bunda Julie mau nyinden, ngiringin sendratari yang mau dimainin warga kampung kita. Bunda Julie biar nyinden pake langgam Jawa, tapi lagu-lagunya modern loooh. Nyanyi lagunya Ratu, ntar yang jadi penari latarnya itu si mb.Arnie ama Nana.
Trus ada lagi Maya Mulyadi pengen nyanyi lagunya ST 12.
Evia tetep dengan tari sempak-nya
Ada Raya mau tari india , hmmmhhh tuh anak hobi banget sama tari India.
Yang seru tuh ceu Osi, dia nekat mau tampil di panggung mainin Holahoop, itu loh yang rotan diputer-puter di pinggang itu, katanya siy itu sebagai lambang bahwa cinta itu universal seperti lingkaran bambu Hoolahoop . Gak tahu nyambung apa nggak sama acaranya, tapi biarin aja deh.
Tuuh kaan kurang apa coba ? seru kan ? ayo kita siap-siap aja duduk sana yuk.”
Nina berusaha menghibur hati Reny dan Febby. Akhirnya merekapun berjalan menuju kursi yang telah tersedia.

Di sebelah utara Nina, Reny dan Dek, tampak sibuk Vina menata makanan hasil karyanya di atas meja. Sedikit sedikit dibereskannya lalu difotonya. Begitu terus di setiap meja yang ia datangi, hal itu membuat Irma temannya heran lalu bertanya :

Irma
:”Vin, ngapain kamu tiap menata hidangan trus fotoin makanannya ?”

Vina
:”Iiih Irma, aku tuh yaaa, tiap aku masak makanan apapuuun, itu mesti abisnya difotoion.”

Irma
:”Iya tapi masak fotoinnya sampe gitu sih Vin, handuk Keyla ampe dibikin taplak, kan uda ada taplak dari panitia ? protes Irma

Vina :
“Gapapaaa…yang penting hasil fotonya nanti ciamiiik deh, ini malah aku bawa sprei dari rumah buat taplak kue sus di meja sana tuuh” jawab Vina cuek sambil terus menjepretkan kameranya.

Di sisi lain aula nampak Omali sedang menyapu sudut bibir Anis dg handuknya krn belepotan bubuk cabe. Ada Nura yang sedikit-sedikit pergi ke toilet, ada Amel yang kerepotan mengejar-ngejar Aghnat yang dikejar-kejar Raffa mau perosotin celana Aghnat.

Sementara bu RW Arie yang terkenal sangat menyayangi warganya juga telah hadir. Beliau adalah pemimpin yang benar-benar penyayang, saking sayangnya kepada warganya dari lapisan bawah setiap penjual kaki lima yang ada di seputaran kantor kelurahan ia sambangi atu-atu, lalu berfoto bersama dagangan mereka seolah-olah dia lah penjualnya, ada tukang gulali, berpose jadi tukang gulali trus jepret deh, ada tukang batagor ia minta difoto jadi tukang batagor, ada tukang somai difoto juga ala tukang somai, ada tukang kacang rebus difoto ala tukang kacang rebus, sampai-sampai dia dekati juga bagian cleaning service kelurahan yang lagi nyapu dan merebut lembut sapunya trus difoto deh ala tukang sapu, masuk ke dapur ada orang lagi nyuci baju, eh dipinjem juga bajunya trus pepotoan ala tukang cuci baju……*hmmmhhh betul-betul bu RW yang peduli*.

Singkat kata, acara pun akan segera dimulai. Semua warga telah berkumpul di Aula Kelurahan. Nampak MC Syamsul telah bersiap-siap memegang microphonenya, semua hadirin memperhatikan ke atas panggung, musik berirama tradisional yang sejak tadi sudah dimainkan kini dimatikan. Sorot lampu mengarah ke atas panggung. Sang MC mulai menarahkan microphone-nya ke mulutnya, ketika tiba-tiba…….

Petttt…….LISTRIK MATI !!!

Terdengar suara kecewa dari dalam aula kelurahan.

Hadirin dan Hadhirat
:”Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu………………………………”
Semua telah bersemangat menunggu selama satu jam agar acaranya dapat segera dimulai. Namun kematian listrik ini benar-benar membuat semangat mereka menjadi padam, karena kebiasaan di kampung mereka kalau so’al listrik itu adalah bukan byar pet, tapi byar peeeeeeeeeeeeeeeeettttttttttttttttttttttttttt, maksudnya nyalanya sebentar, matinya lama.

Untuk meredakan suasana, Lurah Marto hendak mem
anggil teknisi langganannya yang juga warganya yang dia perkirakan datang ke acara Valentine itu yang bernama Yadi, yang biasa ia panggil Juriglagu karena saking sukanya orang itu dengan musik dan lagu-lagu. Maka tanpa berfikir panjang lagi Lurah Marto berteriak di kegelapan untuk memanggil teknisinya itu :

Lurah Marto :”Juriiiiigggg…!! Juriiiiiiiigggg….!!! Juriiiiiiiiiiiiiiggggggggggggggg !!!!!

Mendengar Lurahnya meneriakkan kata jurig, semua hadirin tiba-tiba terdiam, entah mengapa keheningan itu sangat mencekam. Tak seorang pun yang berani berkata-kata, hanya suara jangkrik dan katak di malam hari yang terus bersahut-sahutan. Lurah Marto merasa heran mengapa suasana koq jadi sepi begini. Sekali lagi dia memanggil teknisinya itu :

Lurah Marto :”Juuuurrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiigggggggggggggggggg…………………!!!!!!!!!

Tiba-tiba meledaklah suara teriakan seluruh tamu acara Valentine , tak ada yang tak ketakutan, semuanya histeris, semua ingin berhamburan keluar, satu sama lain saling bertabrakan, terdengar suara kaum wanita dan anak-anak menjerit ketakutan, begitu juga suara kaum pria yang berteriak kesenangan karena pasangannya tertukar jadi lebih bagus dari pasangannya semula *tidak jauh beda dengan tertukarnya sendal di masjid :)))) *.

Melihat suasana sudah tak terkendali, Polwan Nita dengan refleks-nya sebagai komandan polisi berteriak dengan teriakan ala mpok Nori, :
Nita :”Diiiiiiiiiiiiisssssssssssskualipaaaannnncciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……..!!!!!!!!
Prrrriiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttt……!!! *suara peluit Nita begitulah bunyinya.*

Tiba-tiba suasana jadi hening kembali, semua orang terdiam, tak ada lagi yang berteriak-teriak. Omali gemetar tangannya dengan erat memegang Anis, Anis pun dengan erat memegang cemilannya. Priyo yang hendak bersikap sebagai pahlawan bagi Raya, hendak memegang Raya sayang yang dia pegang erat-erat ternyata tiang listrik, Raya sendiri yang ketakutan memeluk tangan pak Joyo yang sebetulnya lebih takut kena peluk Reny.

Suara Yusnita mampu menyihir ratusan orang di Aula tersebut *tidak sia-sia latihan memimpin baris berbaris-nya di kepolisian maupun latihan olah vocal saat karaokean dengan bu RW*

Di tengah kegelapan, Yusnita menyalakan lampu dari HP sejuta umatnya dan bertanya dengan nada tegas :
Yusnita :”Ada apa ini ? kenapa semuanya lari ketakutan kayak begini ? What happen aya naon ? bentaknya kesal karena high heelnya patah sebelah.

Satu persatu tamu di dalam aula menyalakan juga lampu HP-nya, lalu salah satu tamu yang bernama Evia berkata :

Evia :” Itu mmm tadi kata Lurah Marto ada ju ju juriiiggg” katanya sambil kakinya masih gemetar

Yusnita :”Memangnya ada apa dengan jurig ?”

Evia :” Bu bu bukannya jurig itu setan ? hantu ? apakah Lurah Marto liat setan atau kuntilanak ?

Mendengar kata-kata itu, pecahlah tawa Lurah Marto, sambil tertawa terbahak-bahak :
Lurah Marto :” Oooooohhhhh huahahahahahahahahahahaaha……..ya ampuuuun. Saya tadi bilang Jurig itu bukan liat setan atau kuntilanak, tapi panggil teknisi saya si Yadi yang suka dipanggil Jurig buat betulin listrik supaya menyala lagiii, ibu-ibu bapak-bapaaak”.

Mendengar penjelasan Lurah Marto, ustad yang baru insap Syech Deba dengan baju kebesarannya maju ke depan dan berbicara di hadapan semua warga Melatipelayu itu.

Syech Deba: “Inilah yang dibahas kemarin juga di rapat kelurahan, telah terjadi kemerosotan keberanian juga rupanya diantara kita. Kita lebih takut dengan sebangsa jurig, setan, demit dan segala tahayul, daripada takut dengan perpecahan diantara kita. Kita lebih takut dengan perbedaan yang kecil daripada persamaan yang lebih banyak yang membuat kita dapat hidup bersama dalam kedamaian, kita lebih takut akan sesuatu yang belum pasti sehingga tega merusak perdamaian, tega merusak kebersamaan, tega merusak segala yang membuat kita dapat hidup rukun, betuul tidaaakk ?.

Syech Deba :”Nah, dalam kesempatan acara valentine ini, ayo kita sama-sama merenungkan kembali arti kebersamaan yang saling menghormati prinsip dan hak milik orang lain. Kita bisa koq saling menyayangi di tengah perbedaan yang kita punya. Misalnyaaa, ternyata Lurah kita sendiri sudah memberikan contoh, beliau bisa berdamai dengan Ibu polwan Bu Yusnita yang dahulu menangkap beliau di acara Malari, lihat sekarang bagaimana ? sepertinya sebentar lagi kampung kita bakalan pasang janur kuning nih, betul tidaaakkk ?

Semua hadirin tertawa dengan godaan Syech Deba kepada Lurah mereka. Yang digoda sendiri Lurah Marto salah tingkah tangannya mengusap-usap rambutnya yang sudah rapih, sementara polwan Yusnita tertunduk malu-malu meong.


Syech Deba
:”Naaah sekarang mari kita lanjutkan acara hari kasih sayang kita tanpa listrik, tanpa lampu. Makanan yang sudah berantakan terinjak injak biarlah menjadi rezeky tikus-tikus saja. Buat kita mangan ora mangan pokok’e ngumpul, betul tidaaaakk ?


Hadirin
:”Betuuuuuulllllllllll………” Serentak semuanya bertepuk tangan dengan meriah, lega karena ternyata kebersamaan mereka adalah harta yang sangat berharga dan yang lebih penting lagi adalah tidak ada kuntilanak di Aula mereka.

Syech Deba :”Alhamdulillaaaahhh, Indahnya kebersamaan” *sambil betulin sorban*

Malam itu warga desa Melatipelayu merayakan hari valentine dengan membakar api unggun dan ngobrol bersama hingga larut malam.

Tamat

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan turut berbela sungkawa atas jatuhnya korban kekerasan di Cikeusik Banten dan Temanggung. Semoga tragedi kemanusiaan segera enyah dari negeri yang sesungguhnya baik ini.

Kepada kawan-kawan yang tidak berkenan dengan peran di atas saya mohon maaf, ini hanya fiksi belaka. Jika anda tetap tidak terima, silahkan layangkan tuntutan kepada Dekmaniezt dan Febbie Rirhikyu yang mengancam kelitikin saya untuk menulis cerita ini.

Selamat Hari Kasih Sayang teman-teman

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s