Es Krim versus Lebay

Posted on

Mencoba “menyimak” pemberitaan-pemberitaan ataupun pergaulan orang-orang, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Jadi ingat ke jaman masih aktif di organisasi di sekolah (OSIS) dulu, ada istilah “Es Krim”untuk mengganti kata ekstrim (extreme), sebuah istilah yang disandangkan pada keadaan atau sikap yang melebihi batas yang seharusnya. Keadaan atau sikap yang tidak proporsional lagi, tidak seimbang, tidak harmony. Dalam istilah agama kata ini setara dengan istilah ta’ashub (kefanatikan), pendirian yang radikal, cenderung berburuk sangka dan menganggap orang lain salah. Jika sudah demikian maka ia akan mengkristal menjadi paradigma (cara pandang), kemudian menjadi sikap bathin, dan bisa membuahkan perbuatan-perbuatan yang ekstrim pula pada akhirnya.

Ada beberapa padanan katanya yang sering dipersamakan orang untuk menggambarkan keadaan atau sikap ekstrim itu, yang sedang trend sekarang di kalangan anak muda adalah istilah ‘Lebay’. Kalau saya menyebut kata lebay, siapa yang terfikir seorang artis di televisi yang sering bersikap seperti itu ?… Sudah terbayang ? Sukakah anda dengan artis itu ? Mmm suka atau tidak suka, mungkin jawabannya akan relatif, tapi saya yakin sebagian besar akan menjawab tidak. Hal ini membuat rasa yang tidak nyaman, bahkan muak.

Sikap lebay atau ekstrim pertama yang dilakukan manusia untuk pertama kalinya dilakukan oleh putra Nabi Adam as, Qabil. Diawali saat ia tidak bisa menerima kenyataan adiknya Habil menikah dengan wanita yang disukainya. Timbul iri hati dan dengki kepadanya, dan puncaknya adalah saat Tuhan lebih memilih persembahan adiknya daripada persembahannya sendiri. Sikap lebay / ekstrim Qabil ini berbuntut pada pembunuhan atas adiknya itu.

Saya merasa, keadaan dunia yang semakin memanas saat ini juga adalah karena semakin besarnya jumlah orang yang bersikap ekstrim dalam segala hal. Semua kalangan mudah bersikap lebay. Padahal kita tidak suka kalau melihat orang yang lebay bukan ? Orang yang lebay, reaksinya selalu menebarkan aura negatif pada lingkungan sekitarnya, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Menanggapi segala sesuatu keadaan selalu berlebihan. Pada mulanya mungkin orang-orang masih bisa menerima kelebayannya, tapi semakin lama orang tentu akan lelah “mengikuti” sikap yang demikian.

Keberlebihan dalam paradigma, lalu sikap, dan kemudian perbuatan ini sudah menimbulkan dampak tidak baik bahkan menghancurkan dalam sejarah dunia ini. Segala peperangan yang terjadi juga adalah akibat dari sikap ekstrim ini. Kalau sekarang terdapat banyak literatur tentang faham-faham / ide yang diusung oleh manusia-manusia yang dianggap legenda yang telah menciptakan peperangan-peperangan tingkat dunia, maka itu semua tidak lain karena sikap lebay mereka dalam memahami dan mensikapi kehidupan.

Tidak ada lagi ruang untuk berprasangka baik, tidak ada celah untuk bertoleransi, tidak ada kesempatan untuk orang lain memperbaiki diri. Ingat lagunya Ebiet G Ade : “Apakah jika orang pernah berbuat salah, dia akan tetap salah”. Ke-ekstrimisan membuat orang hopeless, putus asa, tak ada lagi harapan, yang dia anggap salah harus dibabat, dibantai, dihancurkan. Maka tak heran jika di pemberitaan dunia sekarang dipenuhi dengan pemberitaan tentang anarkisme bahkan vandalisme. Ada demonstrasi berdarah, ada pembagian zakat berdarah, ada penyiksaan TKW, ada pelemparan dengan kotoran gedung kedutaan, ada pembakaran Al-Qur’an, ada pembakaran bendera negara yang dianggap musuh, ada penjarahan, ada penghancuran gedung oleh demonstran, ada pemboman oleh teroris, ada perampokan berdarah, ada genosida (pembersihan etnis, suku, agama), ada penjajahan negara dan kengerian-kengerian lainnya.

Bisakah kita belajar memandang kehidupan ini secukupnya ? Sesuai dengan yang seharusnya ? Adil, proporsional. Mengecilkan volume keriuhan ini. Membenahi berantakan ideologi dan faham yang berserakan ini. Menata kembali semuanya pada tempat yang seharusnya. Biarlah semua ide itu tetap ada, namun tersimpan dalam tempatnya masing-masing. Bergaul satu sama lain dalam harmony. Menemukan asyiknya hidup guyub dan rukun di dunia ini.

Harus dimulai dari diri kita sendiri. Menjadi pribadi yang bijak, dapat memandang, memahami, mensikapi dan menggauli kehidupan ini secara adil, secara proporsional. Banyak yang bisa kita lakukan untuk kebaikan jika semua kita bersikap arif. Banyak waktu yang dapat kita manfaatkan untuk sebesar-besar perubahan untuk kemasalahatan kehidupan jika kita bertindak benar.

Memulai dari saat ini, setidaknya saat membaca dan mensikapi postingan ini
Hmm dunia semakin panas, daripada ekstrim, mendingan kita makan es krim aja yuuk…yummiii…slurrrpph

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s