Mengapa Harus Bertemu (Lagi) ?

Posted on

Ahh, mengapa harus bertemu lagi ? Aku tak ingin mengingatmu. Disini kamu membangunkan tidurku dari segala tentangmu. Aku telah melupakanmu belasan tahun, dan belasan tahun pula aku selalu gagal, karena kamu tak mau pergi dari otakku. Kini kamu muncul dihadapanku, lengkap dengan semua kenangan itu.

Aku benci mengingat pertama kali beradu pandang denganmu. Padahal sumpah, aku tidak bermaksud memperhatikanmu saat itu. Sebel rasanya jika sampai kamu menganggapku menyukaimu. Tapi mengapa waktu itu selalu kutunggu kemunculanmu untuk melihat reaksi di matamu setiap kali kuberdandan cantik dengan kuncir di rambutku.

Bukan aku yang menginginkan pertemuan ini. Karena aku akan ingat betapa lemasnya lututku saat kamu mendekatiku dan menanyakan nomor telphone-ku. Kamu tahu ? malam itu aku terlambat tidur gara-gara menunggu dering telphone darimu dan berbincang panjang tentang banyak perso’alan hingga larut malam. Aku yakin kamu tak pernah tahu, betapa akhirnya aku tak bisa tidur lagi sesudahnya, entah mengapa tubuhku seperti melayang, walau terasa aneh tetapi nyaman.

Hmm…sudah lima belas tahun, tak ada perlunya kita bertemu lagi. Aku marah mengingat degup di jantungku yang selalu mendadak tidak normal setiap berdekatan denganmu. Suaraku akan terdengar tidak biasa, bicara gemetar dan susunan bahasa yang kacau. Tak cukup dengan itu, keringat tiba-tiba bercucuran di badanku. Aku tak suka harus mengingat kamulah penyebab semua penyakitku kumat saat itu.

Tapi tak apalah, jangan kamu harap aku akan kalah lagi kali ini. Aku tak kan mempan dengan semua hujanan pesonamu. Aku hanya akan membaca inbox ini dengan hati sedingin es batu, karena kamu memang bukan apa-apaku lagi. Bukankah kau hanya sekedar menyapaku :

” Assalamu’alaikum, apa kabar Nie ? Masih ingat aku ? Sudah lima belas tahun nggak ketemu ya, tapi kamu nggak berubah, still sweet as ever :).
Boleh aku minta nomor HP-mu Nie ? Ada yang ingin aku bicarakan, please …”

……………………………………………………….

(Tuhan, ada apa dengan lututku ini, lemas sekali. Terduduk aku di sudut kamarku, meredam degup jantung yang mendadak kencang….).

***

Ini asli buat ikutan lomba prosa cinta-nya mbak Eka (katanya harus cinta-cintaan) dalam rangka merayakan ultah perkawinannya dan blognya Cerita Eka (CE).
Terimakasih buat mbak Antung Apriana atas infonya ya mbak.

(Yang mau ngeledek dilarang komen ^,* )

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s