Menempuh Tuhan Dalam Sunyi

Posted on

Sekedar sharing, aku tertarik membaca tulisan seorang teman facebook yang menyebut dirinya Ahmad El-Majnoon. Tulisan itu hanya tersurat dalam satu kolom komentar, walaupun cukup panjang. Membaca tulisannya tentang pandangan para Sufi memaknai Tuhan, aku merasa disiram air yang amat dingin dan menyejukkan ditengah sahara perdebatan para agamawan yang sibuk memperso’alkan hal-hal yang furu’ dan ikhtilaf.

Demikian tulisannya :

Para sufi menempuh Tuhan dalam sunyi. Tuhan tak didekati dengan formalisme yang hingar bingar, melainkan dengan esoterisme yang senyap. Mereka tak mendefiniskan Tuhan sebagai Tuhan yang ganas dan kejam (syadid al-`Iqab, al- Muntaqim), melainkan Tuhan yang ramah dan toleran (ar-Rahman ar-Rahim).

Dengan sifat rahman-Nya, Allah tak bertindak diskriminatif. Semua makhluk-Nya akan diberi sejumlah karunia. Itulah yang menjadi pegangan para sufi.

Mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW, para sufi berlomba untuk berakhlak dengan akhlak Allah (takhallaqu bi akhlaqillah).

Kitab Suci pun tak dipandang sebagai pasal-pasal hukum yang mengancam melainkan sebagai tamsil-tamsil kehidupan yang mencerahkan.

Mereka tak berhenti di syariat, melainkan terus bergerak ke atas, mengejar makrifat dan haqiqat.

Syariat tak dilucuti dari spirit moralnya; untuk menyebarkan kasih dan menghindari anarkhi. Itu sebabnya, para sufi selalu mencari titik temu antar-syariat, bukan mempertentangkan syariat yang satu dengan yang lain.

Bagi sufi, syariat bukan tujuan, melainkan salah satu wasilat (sarana) untuk berjumpa dengan Tuhan. Dari perjumpaannya dengan Tuhan, para sufi senantiasa menebar kasih dalam keganasan hidup dan menyalakan lilin dalam kegelapan nurani.

Kepada para sufi kita perlu mengaji; bagaimana menghadirkan Tuhan dalam diri, dan bagaimana men-spiritualisasi Kitab Suci?

Sebab, menghadirkan sifat-sifat Tuhan dalam diri menyebabkan seseorang bertindak dengan kasih dan sayang. Tak memandang orang lain sebagai ancaman dan musuh, melainkan sebagai hamba-hamba Tuhan yang perlu mendapat sentuhan kasih kita.

Spiritualisasi Kitab Suci pun perlu dilakukan. Dengan nilai-nilai yang dikandungnya, al-Qur ’an akan menjadi petunjuk bagi manusia (hudan linnaas).

Hanya sekedar berbagi kesejukan dihati, karena ada Sesuatu yang amat kunanti

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s