Senyum Ibu

Posted on

Nuning menghirup aroma yang enak itu, di meja makan rumah Tutik sahabat barunya terhidang aneka masakan untuk buka puasa. Jika menu ta’jilnya saja sudah seperti itu, Nuning membayangkan bagaimana dengan makanan utamanya yang sejak tadi Nuning dengar kemeriahan memasaknya di dapur Tutik saat ia masih asyik bermain dengan sahabat barunya itu yang belum seminggu ini pindah ke dekat rumahnya. Mereka bersebaya, sama-sama duduk di kelas 5 sekolah dasar.

Keluarga Tuti cukup berada, segala mainan dan isi kamar Tutik membuat Nuning betah berlama-lama main di rumahnya. Terkadang dalam sehari, ia bisa 4 kali pulang ke rumah hanya untuk mengambil beberapa mainannya atau uang untuk ia dan Tutik membeli makanan ringan sebagai bekal pergi tarawih nanti malam. Setiap Nuning masuk ke rumahnya, Ibunya selalu menegurnya agar ia tidak terlalu lama bermain dan beristirahat karena beliau amat mengkhawatirkan kesehatannya. Tapi Nuning terlalu asyik dengan pertemanannya kini, ia dan Tutik selalu menemukan ide untuk memperpanjang waktu bermainnya, apalagi di muslim libur bulan puasa seperti ini.

Waktu berbuka hanya berselang lima menit lagi, Nuning tak juga beranjak dari kamar Tutik. Setelah pulang sebentar untuk mandi sore, tanpa berpamitan kepada ibunya ia kembali mendatangi rumah Tutik untuk memenuhi undangan Tutik dan mamanya untuk berbuka puasa di rumah mereka. Betapa senang hati Nuning membayangkan apa yang akan dinikmatinya nanti, dia teringat isi meja Tutik sudah berjejer mangkuk-mangkuk berisi kolak pisang campur durian hangat, sepinggan besar Pastel goreng gurih, serta beraneka buah-buahan segar yang tertata cantik. Aroma khas makanan hangat itu seudah menyebar memenuhi ruangan-ruangan rumah Tutik, dan orang tua serta kakak-kakak Tutik nampak sudah bersiap menyambut waktu berbuka.

Nuning masih memainkan boneka Barbie milik Tutik, sedang sahabatnya itu pamit sebentar ke toilet. Tiba-tiba terlintas di benak Nuning sosok ibunya di rumah:

” Sedang apa Ibu sekarang ?”

Pasti sama sedang menyiapkan hidangan untuk berbuka juga, demikian dalam benak Nuning. Bedanya hanya isi mejanya, biasanya untuk berbuka mereka, Ibu akan menyiapkan teh manis hangat. Saat pulang tadi Nuning melirik ke dapur, Ibunya tengah menggoreng tempe balut tepung dan menumis sayur kangkung cah kesukaan ayahnya serta pisang goreng pesanannya. Nuning membayangkan betapa sedihnya Ibu jika berbuka puasa tanpa dirinya, yang meski Ibunya tidak akan khawatir karena tahu ia sejak tadi bermain dengan Tutik, tapi tentu Ibu akan berkurang kebahagiannya jika ia tak ikut berbuka puasa bersama mereka melingkar bersama ayah dan adiknya di atas tikar mereka. Apa yang akan dirasakan Ibu jika ia kehilangan salah satu anaknya di tikar mereka karena lebih memilih berbuka puasa di rumah temannya yang lebih kaya, hidangannya lebih lengkap dan lezat dan seluruh anggota keluarga berkumpul disana ditambah dirinya.

Nuning segera bangkit dari duduknya, masih ada kesempatan mendengarkan adzan maghrib dari rumahnya yang hanya terpaut lima rumah dengan rumah sahabatnya ini.Tutik agak terkejut saat ia hampir menabrak Nuning di pintu kamar :

” Ning, kamu mau kemana ?”

“Aku berbuka di rumah aja ya Tik, kasian Ibu menungguku. Besok kita main lagi ya”

Nuning berlari dalam kesyahduan saat-saat datangnya maghrib, ia tak perduli dengan panggilan Tutik dibelakangnya, Nuning ingin pulang sebelum adzan maghrib mendahuluinya dan mengucapkan do’a berbuka puasa bersama ibu, ayah dan adiknya.

Ternyata Nuning mendapatkan kebahagiaan lain selain berbuka puasa dan bertemu Tuhannya kelak yang dijanjikan kepada orang yang berpuasa seperti yang dikatakan ustadznya di surau, Nuning mendapatkan satu lagi kebahagiaan lain, yaitu melihat ibunya tersenyum saat melihat kedatangannya. Nuning segera mengambil tempatnya disisi ibunya dan saat akhirnya adzan berkumandang, ada air mengembang dimatanya saat melihat Ibunya menyodorkan teh manis hangat pada kedua tangannya.

Hingga dewasa kelak,saat kau telah berumah tangga dan memiliki anak, Ibu akan selalu mengembangkan senyumnya setiap engkau mengunjungi rumahnya, kerinduannya tidak akan berubah dengan berlalunya waktu, baginya engkau tetaplah bayi mungilnya yang selalu dirindukannya siang dan malam. Sayangi Ibu….cintai Ibu….

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s