Baju Baru Untuk Anakku_Lomba Cerpen 200 Kata

Posted on


Diatas sajadah itu kau membalikkan tubuhmu dan menatap wajahku .

Tatapanmu syahdu dalam pandanganku, aku segera merengkuh punggung

tanganmu dan mengecupnya. Kau tersenyum dan mengusap pundakku lembut :

“ Dik, tinggal seminggu lagi. Mungkin untuk lebaran tahun ini Ali dan Nurul

tak bisa memakai baju baru. Uang THR Mas dipinjam Ramli, tadi pagi ibunya

dibawa ke rumah sakit, penyakit jantungnya kumat.”

Kau menatapku seakan mencari pengertianku. Terlintas dalam bayanganku

sosok kedua anakku, berkumpul dengan keluarga besar kita dengan baju belel

mereka. Ali dan Nurul hanya anak-anak biasa yang mungkin memiliki

kesedihan tanpa baju baru di hari raya. Tetapi aku sadar penghasilanmu yang

tidak besar bukan hanya untuk keluarga kita, kau menafkahi ibuku juga, bahkan

tetangga miskin kita.

Aku tak ingin hatimu masygul, kutatap kedua mata teduhmu :

“Tak apa-apa mas aku masih punya satu cincin, bisa kujual dan kubeli sedikit

kain untuk kujahit menjadi kerudung Nurul dan kemeja Ali.”

Kau nampak terkejut, namun sejenak kemudian matamu nampak berkaca-kaca ,

kau merengkuhku kedalam pelukanmu :

“Terimakasih Dik, maafkan Mas belum bisa membahagiakanmu. Tapi aku

bersyukur, Allah masih mengizinkan kita membawa orang lain dalam rezeky

kita.”

Malam ramadhan yang damai, saat kau mengusap air mata di pipiku.

Pertama kali membuat cerpen dalam 200 kata untuk menyambut bulan mulia Ramadhan tahun ini. Kalau bukan karena ikutan lomba, males bikin cerpen dibatasi kata-katanya. Tapi setelah dijalani, ternyata seru juga, harus banyak otak-atik kata sana-sini supaya pesannya sampai kepada pembaca.

Sebetulnya banyak yang ingin disampaikan, tapi ya tadi, berhubung harus pas 200 kata termasuk judulnya, jadi banyak sekali hal-hal “kurang cerdas” yang terkesankan kepada pembaca, seperti misalnya kata-kata :

“Tak apa-apa mas aku masih punya satu cincin, bisa kujual dan kubeli sedikit

kain untuk kujahit menjadi kerudung Nurul dan kemeja Ali.”

Maunya menceritakan ke-qana’ahan seorang istri itu tidak harus dengan menjual cincinnya, atau paling tidak kalau harus menjual cincin, uangnya dipakai untuk modal menjual makanan buka puasa dan sebagainya. Walaupun setelah difikir-fikir kalau waktu menuju lebaran tinggal seminggu lagi, jualan makanan buka puasa kayaknya udah telat juga ya, dan untungnya apa mungkin bisa buat beli baju anak-anak hehehe.

Tapi setidaknya, dengan mengikuti lomba semacam ini, jadi ketemu deh dengan makna dari kata-kata :“Keterbatasan itu membuatmu kreatif” (setidaknya kreatif dalam cari-cari alasan kalau cerpen ini dalam pandangan pembaca :’nggak bangeet…’ hehehe)

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s