Dibawah Bendera Reformasi (Postingan Kolaborasi bersama Trimatra)

Posted on

Setiap hari adalah pemberian Tuhan yang baik. Tak ada yang ternikmat melainkan masih diberi kesempatan hidup dalam keadaan sehat. Diberi sekali lagi kesempatan untuk dapat “bergerak” memanusiakan “kehewanan” nafsu kita dengan memuliakan kehidupan melalui amal-amal shaleh kita.

Ditakdirkan Tuhan untuk lahir dan hidup di negeri ini. Negeri yang lega dan lapang namun terasa sempit dan menyesakkan untuk sebagian penghuninya. Negeri yang hijau dan subur namun penuh polusi dan racun bagi sebagian warganya. Negeri yang kaya namun memiskinkan banyak penduduknya. Negeri yang ramah dan berbudi namun kejahatan berbagai bentuk merajalela.

Ya, di negeri yang demikan kita diasuh, oleh zaman yang semakin rapuh. Sesungguhnya tak ada yang berubah dari zaman ini melainkan dia semakin renta. Manusialah yang berubah dengan hawa nafsunya. Sejak Indonesia merdeka dari penjajahan bangsa asing, apakah Indonesia dengan serta merta telah terbebas dari penjajahan siapapun ? Euphoria kemerdekaan justru telah memabukkan anak-anak bangsa yang baik dan idealis menjadi haus kekuasaan. Dan dari sini sumber malapetaka berawal, apalagi tak disertai tuntunan kebenaran. Maka yang terjadi adalah lanjutan “peperangan”. Peperangan melawan nafsunya sendiri-sendiri.

Maka kita perhatikan justru antrian orang miskin yang berbaris menunggu giliran mendapatkan jatah makanan atau minyak dan sebagainya justru terjadi setelah “kemerdekaan” baik sejak masa Orde Lama, Orde Baru maupun era Reformasi sekarang ini walau berbeda bentuknya namun sama dalam maknanya.

Jika demikian apakah kita masih dalam masa penjajahan ? Jawabnya bisa disaksikan dari pemberitaan-pemberitaan di media setiap hari. Permasalahan-permasalahan ekonomi, sosial, financial, moral dan etika, kepemilikan, peradilan, perundang-undangan, anak-anak, rumah tangga, dan sebagainya menunjukkan banyak sekali yang harus dibenahi di negeri ini.

Namun demikian, diatas takdir Tuhan ini, tak ada yang tak bisa kita persembahkan untuk kebaikan negeri ini. Setiap kebaikan yang kita tanam tentu akan menambah pula kebaikan untuk negeri ini. Tak ada yang sia-sia walau sekecil apapun yang dapat kita bangun.

Maka cita-cita besar untuk mewujudkan negeri yang lebih baik itu tetap harus berawal dari langkah kecil kita.

  1. Kebersihan hati, bersih dari segala pamrih, bekerja semata-mata karena untuk memuliakan Tuhan dan untuk bersyukur kepadaNYA
  2. Lahirkan Gagasan. Gagasan untuk mewujudkan sesuatu yang baik dan manfaat untuk setidaknya keluarga sendiri. Jika bisa,lebarkan manfaat itu agar dapat dinikmati lingkungan terdekat, demikian seterusnya meluas hingga dapat dirasakan masyarakat
  3. Eksekusi. Eksekusikan gagasan dan rencana-rencana kita. Tanpa eksekusi, gagasan sehebat apapun hanya akan tinggal gagasan saja tidak menjadi apa-apa.

Jadi berhentilah mengeluh dan menghujat, hanya menambah penjajahan moral lain di negeri ini dan menambah beban bathin masyarakat. Sudah waktunya bekerja bukan beropini. Ayo, mana tanganmu ? Ini tanganku…!

Memang menulis atau berkata-kata tak kan semudah mewujudkannya, tetapi tak ada yang mustahil selama kita mau berusaha dan terus berdo’a kepadaNYA.

Semoga apa yang kita buat untuk kebaikan negeri ini menjadi tambahan lakon dan pitukon kita, tambahan amal-shalih kita agar dapat menjadi bekal pulang kembali kepadaNYA, yang untuk tujuan itulah kita diciptakan.

Ditulis untuk mengikuti Kolaborasi Postingan bersama Trimatra bertemaDibawah Bendera reformasi

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s