Belajar Dari Ironi Menjelang Ramadhan tiba

Posted on

Terharu menyimak berita siang ini, tentang pembebasan hakim atas tuntutan jaksa kepada dua janda pahlawan di PN Jakarta Timur. Kedua janda ini bebas atas gugatan kasus penggunaan rumah pegadaian.

Tidak kuat menahan air mata melihat sosok-sosok sepuh itu dalam masa tuanya harus menghadapi perso’alan rumit seperti itu. Tanpa suami lagi karena ditinggal wafat, sedang pada masa mudanya dahulu mereka tercatat sebagai orang-orang yang membela bangsa dan mempertahankan tanah airnya. Tak disangka, dimasa lemahnya mereka terusir dari rumah-rumahnya yang mereka pertahankan dulu setiap jengkalnya dari rampasan negri-negri penjajah.

Salah satu ironi kemanusiaan ,bukan hanya menyoroti kekurangan bangsa ini karena dimanapun kalau manusia sudah lebih mendahulukan dorongan nafsunya dibanding tuntunan kebenaran, maka yang terjadi pasti ketidak-adilan.

Banyak sekali ironi terjadi yang memilukan hati, dan banyak sekali hal-hal tersebut diangkat ke permukaan oleh media-media pemberitaan di masa canggih sekarang ini. Tapi akankah semua itu merubah kita semua untuk dapat memfungsikan akal dan hati nurani kita untuk dapat hidup lebih baik sejalan dengan Kehendak Tuhan ?

Hakikat nafsu sesungguhnya ada pada raga manusia itu sendiri. Nafsu ada karena raga manusia ada. Diciptakan Allah agar bisa menjadi kendaraan dalam perjalanan menuju kepada NYA kembali kelak. Namun tergantung bagaimana manusia mengendalikan nafsunya, apakah akan sampai dengan selamat ataukah tersesat. Apakah manusia yang tetap konsisten mengendalikan nafsunya atau berbalik nafsunya sendiri yang mengendalikan kehidupannya.

Jika nafsu telah menjadi tuntunan, maka peradaban ini akan semakin diarahkan menuju kehancuran. Seperti yang difirmankan dalam Al-Qur’an :

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.( QS : Al-Mu’minun : 71 )

Bagaimana tidak nafsu yang hakikatnya raga manusia ini memiliki kebutuhan-kebutuhan. Butuh makan, minum, rumah, berteman, berpasangan, berkeluarga dsb. Kebutuhan-kebutuhan bangsa daging dari kalangan makhluk berakal. Namun nafsu itu ibarat pedal gas dalam kendaraan, ia membutuhkan rem, dan rem itu hanya dikendalikan oleh hati nurani manusia. Jika rem dari hati nurani itu tidak bekerja maka bablaslah digunakan sang nafsu seenaknya sendiri. Bisa-seruduk sana seruduk sini, tak perduli apakah akan merugikan orang lain atau tidak.

Disinilah kepentingan keberadaan hati nurani yang bersih untuk manusia. Ia menjadi teman akal manusia sebagai “baitul makmur”nya, tempat Allah menurunkan hidayahNYA agar manusia dapat membaca signal keberadaanNYA . Sehingga merasakan kehadiranNYA ini menjadi ruh dalam setiap aktivitasnya.

Merasa selalu dekat dengan Rabb langit dan bumi pastilah akan membawa dampak yang dahsyat dalam berkehidupannya. Segala aktivitasnya pasti akan diarahkan agar bisa mendapat Rela dan Keridha’anNYA.

Menjelang Ramadhan 1431 Hijriyah kali ini, selayaknya kita semua bersiap diri, untuk dapat memanfaatkan bulan mulia yang dianugrahkan Allah itu sebagai momentum mujahadah bagi perbaikan diri, menjadi pribadi-pribadi yang dapat mengendalikan nafsunya sesuai dengan kehendak Penciptanya. Sehingga lebih jauhnya memiliki keinginan untuk dapat ma’rifat atas Kebenaran dan PemilikNYA.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang sungguh menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran…. ( QS : An-Nisa 135 )

Semoga masih diberikan usia untuk sampai kepada Ramadhan yang diberkahi. Semoga masih diberi kesempatan menikmati jamuan Ilahy, Allahumma amiin.

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s