Ngaku = Lelah dan Capek = Nihil

Posted on

Menjadi diri yang ikhlas itu tidak semudah mengucapkannya. Ia mensyaratkan kekosongan dari pamrih. Padahal banyak hal yang manusia sulit sekali untuk tak berpamrih jika tak cepat sadar akan hakikatnya diri yang sesungguhnya faqir, tak punya daya dan kekuatan jika tidak bersama Tuhannya.

Apalagi pada zaman dimana dunia sudah penuh dengan hukum-hukum pro-nafsu. Yang tersurat maupun yang tersirat, tertulis maupun terjabarkan. Segala hal butuh pengakuan, bahkan pengakuan menjadi sumber rezeky. Merambah ke semua arah, segala profesi maupun non profesi.

Apabila ditelisik kemudian mengapa orang butuh pengakuan? apakah demi harga diri? ataukah agar supaya orang lain tahu hak-haknya? atau seperti diungkapkan pertamakali, karena disitu ada sumber penghasilan ? Jawabannya akan bergantung pada kejujuran hati nuraninya.

Menyimak fenomena saat ini dari pemberitaan-pemberitaan di berbagai media, dimana nampaknya orang-orang berani berjuang demi sebuah pengakuan bahkan walaupun harus berkorban harta, waktu bahkan nyawa. Banyak terjadi sengketa diantar anak bangsa hanya karena masalah ini.


Mudah kita temukan bagaimana jika seseorang tersinggung dengan seorang lainnya maka akan melayang surat-surat somasi untuk orang yang telah menyinggungnya. Jika kebetulan orang itu public figure maka tidak cukup surat somasi, melainkan diadakanlah konferensi pers untuk memperjelas ketersinggungannya tak perduli apakah perso’alannya adalah perso’alan penting (untuk masyarakat) ataukah tidak.

Saat ini kita menyaksikan, bahkan pelaku-pelaku kejahatan pidana maupun asusila pun masih berusaha mencari celah untuk dirinya mendapatkan pengakuan itu, mengumpulkan alasan-alasan untuk mendapatkan pembenaran dari masyarakat atau setidaknya permakluman atas apa yang telah dibuatnya.



Apakah kita sedang membicarakan para artis ? Tidak sama sekali ! Kita sedang membicarakan diri sendiri. Apakah kita ini sekarang ? sebagai pemimpin perusahaan yang ingin dihormati ? lalu jika ada karyawan yang tak sependapat dengan kita maka kita akan membuat segala cara agar dia sefaham dengan kita atau memecatnya ?




Apakah kita sebagai pejabat negara yang ingin diakui, maka segala kebijakan yang kita putuskan harus dibenarkan dan didukung ? Jika ada yang berani mempertanyakan bahkan menentang maka kita akan berusaha meredamnya bahkan memberangusnya dan menganggap mereka sebagai musuh negara?


Apakah kita sebagai ulama atau aktifis da’wah, yang ingin diakui, maka jika kita bicara sesuatu rasanya tidak afdhal jika tak menyitir kitab suci walau bagaimanapun, kapanpun dan dimanapun? dan karena yang disitir adalah kitab suci maka orang yang mendengar “tak pantas” untuk memiliki pendapat berbeda ? Lalu jika mereka tetap dalam perbedaan pemahamannya maka kita akan memutuskan bagi mereka kaum yang mufasiq, dzalim bahkan kafir seolah kita telah menjadi hakim ?



Apakah kita sebagai seniman dan budayawan yang ingin diakui ? maka identitas kebudayawanan dan kesenimanan kita harus terjelaskan berupa kebijaksanaan, keberfihakkan, keorisinilan, kepintaran sekaligus kekhasan (kalau tidak bisa disebut ke-slengean). Karena yang menjadi bahan rujukan budayawan dan seniman itu filsafat kebenaran, maka siapa atau fihak manapun yang bersuara berbeda dengannya maka akan dianggap pecundang dimana gagasan-gagasan mereka dianggap pembodohan.




Apakah kita sebagai penulis buku, penulis lagu terkenal yang ingin diakui ? maka segala karya-karya kita harus melalui satu pintu, yaitu perizinan kita.Jika ada yang berani menyalin dan memperbanyak tanpa izin kita maka bersiaplah untuk menerima gelar dari kita sebagai ‘Plagiator’ dan apalagi sudah ada perangkat hukumnya menyangkut Undang-Undang Hak Cipta ini, sampai kapanpun akan dikejar untuk menuntut ganti rugi.




Apakah kita sebagai jurnalis kawakan dari media yang terpercaya yang ingin diakui maka segala pemberitaan kita harus menghebohkan, harus yang paling awal merilis, harus kontroversial, harus “terkesan tajam” dan “terkesan” berfihak kepada rakyat kecil ? Karena merasa pandai, tajam dan terpercaya maka seandainya ada media lain yang lebih cepat, lebih tajam, lebih akurat maka segala cara boleh dilakukan demi menaikkan popularitas.




Semua hanya masalah pengakuan.

Bahkan orang-orang kecil dan lemahpun butuh pengakuan. Berapa banyak orang-orang berdemo, mengandalkan jumlah kawan yang banyak untuk menebus kekurangan mereka dalam hal ekonomi ataupun pendiskriminasian, mengeluhkan ketidak adilan, menuntut perbaikan nasib, memaksa dilakukan perubahan hukum.


Apakah salah kita menuntut hak untuk sebuah pengakuan ? dengan kata lain :”Apakah ‘Ngaku’ itu salah ?


Dalam Islam khususnya, Nabi saw kita mengajarkan kepada kita untuk “mengambil” bagian dari dunia ini seperlunya, tidak berlebih-lebihan. Seperlunya kita hidup. Bahkan ada hadistnya yang berisi :
“Makanlah dan minumlah kamu sekedar agar punggungmu tegak” (HR. Bukhary-Muslim).
Terkait dengan masalah keperluan ragawi, seperti demikianlah yang dicontohkan.

Maka jika telah melampaui keperluan, dikhawatirkan telah jatuh pada sikap berlebihan. Itulah yang membawa orang kini sibuk sekali mengelola pekerjaan dan harga dirinya dimata umum.

Pengakuan adalah hal lain diluar keperluan hidup sesungguhnya, yang walaupun orang kini berjuang keras mendapatkannya. Untuk apa pengakuan itu jika saja kita mau menyadari bahwa jangankan untuk bisa berfikir, bekerja, meraih prestasi-prestasi, mengembangkan sayap “kesuksesan” dan sebagainya sedang bernafaspun kita tidak bisa kecuali karena oleh dan bersama Tuhan saja yang Allah asmaNYA.



Hanya sesederhana itu . Tidak sulit sesungguhnya untuk tidak mengaku atau merasa paling pintar sendiri, paling benar sendiri, paling kuat sendiri. Diri ini akan asyik “memandang” kepandaian, kebenaran dan kekuatan Tuhan saja. Dan segala yang ada di dunia ini tidak ada kecuali karena bersumber dari Pintar, Benar dan Kuatnya Tuhan.



Yang sulit itu justru kalau sudah ngaku atau “merasa memiliki” pintar, benar dan kuatnya. Hidupnya lelah mengejar-ngejar pengakuan orang lain, kalaupun ada harta yang didapat, ataupun sedikit penghormatan, maka itu semua tak akan dibawa mati yang mutlak/pasti kedatangannya.



Maka belajar untuk ikhlas, belajar sampai ajal tiba. Belajar menafikan segala yang fana ini, sambil terus menegakkan dzikir kepada Yang Maha Ada, Yang paling pantas untuk ‘Ngaku’, mengakui bahwa segala yang ada ini adalah CiptaanNYA, PerbuatanNYA, Maha KaryaNYA.

Sambil terus berkarya, karena sebagai manusia karya kita akan menjadi pancatan yang kokoh untuk bisa sampai kepadaNYA jika dilakukan dengan IKHLAS.

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s