Cinta Untuk Anak-Anak Negriku

Posted on

foto dipinjam darisini

Sudah menjadi fitrah manusia untuk menyayang mencintai anaknya.

Apakah karena anak itu darah dagingnya ? Apakah karena itu dengan rela orang tua melimpahkan kecintaannya dalam wujud pemberian-pemberian ? Apakah karena itu pula para orang tua banyak berkorban demi kesehatan, keselamatan dan kebahagian putra-putrinya ?
Jika karena itu semua, mengapa pada zaman ini kita saksikan betapa banyak orang tua yang menyakiti anak-anaknya, anak-anak-anak yang dikandung dalam rahimnya atau rahim istrinya. Mengapa ada bapak memperkosa putri kecilnya ? Mengapa ada ayah yang membaringkan anaknya di atas rel KRL agar kaki putranya digilasnya ? Mengapa ada ibu yang menenggelamkan putra-putrinya ? Mengapa ada ibu yang membunuh tiga anak balitanya sekaligus ? Mengapa ada orang tua yang mengurung anak balitanya berhari-hari dan meninggalkannya di rumah sendiri tanpa makanan dan minuman ? Mengapa banyak wanita melahirkan bayinya lalu membuangnya atau membunuhnya ? Mengapa ada ayah tega menyuruh anak perempuannya melacurkan diri ? Mengapa dan banyak sekali mengapa ?
Jika demikian bukan karena hubungan pertalian darah yang menyebabkan kasih dan cinta orang tua kepada anak itu terbentuk. Melainkan karena Allah saja Pencipta Segala yang telah mewujudkan cinta itu dan menyematkannya kepada dada manusia yang dikehendakiNYA. Allah telah melembagakan CintaNYA dan dibagikanNYA kepada kebanyakan orang tua di bumi milikNYA.
Betapa banyak orang-orang yang bukan ayah, bukan ibu, bukan tante, bukan om, bukan nenek, bukan kakek, namun habis waktu hidupnya untuk berkhidmat pada menjaga dan memelihara anak-anak orang lain yang ditelantarkan orang tuanya. 
Belum lama ini ada pemberitaan yang mengisahkan tentang seorang supir taxi di Bandara Soekarno Hatta yang memelihara bayi-bayi yang dibuang orang tuanya di tempat ia bekerja. Ia membawa pulang bayi-bayi malang itu lalu dirawatnya bersama istrinya seperti mereka merawat anak-anak kandungnya sendiri. Supir taxi itu memelihara 7 anak terlantar itu, sedang anak kandungnya sendiri ada 3 orang. Ditempatkan di rumahnya yang mungil, dengan penghasilan sebagai supir taxi yang tidak seberapa, namun Tuhan menunjukkan kepada kita semua dalam tayangan itu bahwa rezekinya cukup untuk hidup bersama-sama mereka dalam kasih sayang dan cinta.
Harus menjadi bahan introspeksi tingkat tinggi bagi para orang tua yang memiliki anak-anak dalam asuhannya. Apakah anak-anak itu telah mendapakan hak mereka sepenuhnya untuk dijaga, dilindungi, disayangi, diberi pendidikan yang baik dan benar .
Apakah tanggung jawabnya itu berada dalam pengendalian yang benar atau telah diserahkan sebagiannya ataukah sebagian besarnya kepada para asistennya entah itu diistilahkan dengan Baby Sitter, Pembantu dan lain sebagainya.

Sungguh miris menyaksikan beberapa anak-anak tetangga yang telah dipercayakan pengasuhannya kepada para asisten yang (maaf) banyak hanya mencari materi saja di rumah majikannya. Saat kedua majikannya bekerja di luar rumah, tinggallah si anak dengan tingkah polah “mbak-mbaknya” yang merasa “bebas” dari pantauan sang majikan. Mereka asyik bertelpon ria dengan kawan-kawanya, sering juga dengan kawan prianya. Sering ditemukan mereka membawa masuk kawan lain jenisnya bahkan membuat pesta kecil di rumah majikannya tanpa izin. Terbayang apa yang diserap si anak dari tingkah asisten seperti ini terlebih jika dikaitkan dengan jumlah kekerasan kepada anak yang banyak terjadi saat ini yang dilakukan oleh para asisten rumah tangga . Walaupun tidak dipungkiri ada pula asisten yang baik, namun tetaplah sebagai orang tua tidak bisa dibenarkan apabila menyerahkan pengasuhan sepenuhnya kepada asisten sebaik apapaun , karena kesibukannya tidaklah mengugurkan kewajibannya dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

Itulah yang amat mahal dan tak ternilai harganya pada zaman ini. Dimana Cinta tak dapat dibeli hanya oleh sejumlah rupiah. Keselamatan, Ilmu dan Kebahagiaan anak-anak adalah harta tak ternilai yang tak dapat ditebus saat mereka telah beranjak dewasa. Dimana mereka akan mencari lembar demi lembar kenangan akan keberadaan orang tua mereka serta cintanya. Bagaimana akibatnya jika yang mereka temukan dari lembaran-lembaran itu hanya ‘ketiadaan’? padahal orang tua mereka masih hidup ? Bagaimana sekiranya yang mereka temukan dalam album kehidupannya hanya sosok-sosok pembantu rumah tangga orang tua mereka, bukan ibu dan ayahnya sendiri ? Bagaimana jika yang mereka temukan dalam album mereka hanyalah bentakan, kekerasan hati, kekakuan, wajah-wajah dingin orang tuanya bahkan kekejamannya ? Na’udzubillah min dzaalik.

Dan yang terutama adalah, bahwa orang tua yang baik bagi anak-anak ini harus “diperluas” dalam hal tanggung jawab saling mengawasi, saling menjaga keselamatannya, saling perduli akan pendidikan budi pekertinya kepada lingkungan yang lebih besar seperti tetangga, lingkungan rukun tetangga, rukun warga dan yang terluas dalam lingkup negara ya negara itu sendiri.

Negara wajib memberikan perhatian besar akan generasi barunya dalam hal memuliakan masa depan mereka dengan memberikan pendidikan yang baik, kemudahan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik tersebut, menyediakan perangkat hukum yang kuat untuk melindungi hak-hak mereka sebagai anak bangsa, mensejahterakan kehidupan orang tuanya, yang pada akhirnya akan mengkait pada aspek-aspek besar lainnya yang untuk itulah negara ada untuk kita.

Semoga Allah mengaruniakan masa dan tempat yang lebih baik untuk kalian anak-anakku di bumiNYA ini, Allahumma aamiin





Ditulis atas kesepakatan postingan kolaborasi Gerakan Nasional Indonesia Sayang Anak yang digagas oleh bang Iwan dari Fatamorgana untuk memperingati Hari anak Nasional tgl 23 Juli 2010.
Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s