Renungan Bersama Semangkuk Mie Instant

Posted on

Bismillahirrahmanirrahiim

Malam ini, sambil menikmati semangkuk mie instan (yang dengan gagahnya tidak aku rekomendasikan untuk makanan anak-anak karena bukan makanan sehat) seperti biasa aku mulai merapat di seperangkat alat menulisku ini. Karena tangan kanan kugunakan untuk menyendokkan mie ke dalam mulutku, maka tangan kiri kutugasi untuk meng-klik mouse-ku ke alamat-alamat rumah menulis teman blogku.

Dengan semangkuk mie ditangan aku mulai berselancar menemui catatan-catatan teman yang sangat berharga dengan aneka genre dan gayanya. Aku tidak berhenti bersyukur, ajaib sekali media internet ini memberiku banyak informasi, tanpa harus bersusah payah mengunjungi toko-toko buku, atau mampir di emperan jalan untuk membeli koran, namun aku bisa mendapat beraneka bacaan yang menurutku apapun itu, apakah postingan-postingan itu berupa artikel, cerpen, puisi, prosa, essay, review buku atau film, atau sekedar curhat semuanya memberiku manfaat yang luar biasa dan kukira untuk teman-teman pun demikian.
Kita bisa mengetahui banyak hal dengan membaca tulisan-tulisan mereka, nambah ilmu kata orang, bahkan kita bisa menduga-duga seperti apa kira-kira karakter dan gaya hidup teman blog kita itu.


Merenungi semua catatan-catatan itu membuatku teringat dengan masa laluku. Masa lalu yang belum terlalu lama meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya, entahlah aku tak tahu. Tetapi yang pasti pada saat aku berpisah dengannya aku telah membuat suatu keputusan besar, keputusan yang merubah lagi diriku, jiwa dan pemikiranku setelah sebelumnya diriku, jiwa dan pemikiranku telah diubahnya selama bertahun-tahun pula.
Aku merasa menjadi manusia baru dimana kehidupanku dimulai. Terkadang muncul penyesalan mengapa kesadaran itu terlambat datang, namun keyakinan bahwa tidak ada yang terjadi dan terwujud dalam kehidupan ini kecuali karena izinNYA maka aku meyakini inilah jalanku yang DIA kehendaki untukku. Maka aku tak keberatan sama sekali. Apalah artinya lama dan sebentar, tepat waktu atau terlambat dalam perhitunganNYA, selama kita mau menggunakan “mata”, “telinga”, akal dan hati kita untuk menangkap isyarat-isyaratNYA.


Dari sejarah belasan tahun di masa laluku itu aku belajar, bahwa manusia bisa sangat naif. Naif bisa jadi karena kemudaan usia dan kepolosan informasi dan pemahamannya sehingga pada saat datang orang dengan membawa pemikiran baru yang nampak “hebat” apalagi mengatas namakan “kebenaran” dengan menggadang-gadang ayat-ayat Tuhan dalam KitabNYA maka dengan mudahnya kita dan sebagian banyak anak-anak muda yang tergiur olehnya lalu masuk kedalam lubangnya.


Jiwa-jiwa heroik seketika bermunculan seakan-akan berdiri di atas kebenaran sejati. Sehingga terkadang bahkan sering lupa bahwa kebenaran itu bukan kita yang punya.
Kebenaran hakiki hanya milik Tuhan semesta alam yang Allah asmaNYA. Karena “lupa” inilah sering terjadi fanatisme berlebihan yang lahir dari doktrin-doktrin yang sesungguhnya lahir dari pemikiran manusiawi juga, penafsiran-penafsiran ayat yang diragukan apakah benar telah ditafsirkan dengan tepat oleh yang berhak dan sah.


Oleh sebab itu karena telah mengalami penafsiran yang khawatir telah disesuaikan dengan berbagai kepentingan, maka terjadilah menurut saya fanatisme yang tidak lagi proporsional, fanatisme yang tidak lagi berfihak kepada Allah dan RasulNYA yang sering didengung-dengungkan, melainkan fanatisme pada golongan/ kelompoknya sendiri-sendiri. Fanatisme yang ashobiyah. Sehingga bukannya mendatangkan rahmat melainkan menambah alat pemecah belah lagi untuk umat yang telah kebingungan ini.


Saat itu, duniaku seakan hanya “disitu” saja. Tak berani bahkan menengokkan kepala keluar, takut terbilang tak konsisten. Tidak ada referensi yang benar “diluar sana”, yang benar hanya yang bersumber dari “dalam”. Bahkan jikapun referensi itu, masukan-masukan itu datang dari orang tua kita sendiri, dengan gagahnya akan kita sanggah, karena mereka bukan dari “kalangan sendiri”. Sikap-sikap pengingkaran tanpa sadar telah dijejalkan, bahkan kepada orang tua sendiri jika mereka bukan dari komunitas yg sama.


Komunitas yang mengagungkan ideologi tanpa tuntunan asli memang akhirnya akan menimbulkan keheranan tersendiri pada pengikutnya. Aku dapat memastikan itu karena ternyata bukan hanya diriku yang mengalami kebingungan itu, banyak yang akhirnya terpental juga, padahal dahulu mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat berintegritas dalam mengusung ideologi tersebut.


Kefanatikan yang tidak berdasar pada sumber yang benar, menimbulkan sikap-sikap ekstrim dalam bermasyarakat. Sikap hati merasa diri dan komunitas yang paling benar, sementara yang lain salah, mengkristal dalam paradigma, yang berakibat mengkristal juga dalam sikap.
Sikap bahwa barangsiapa “berdiri” di luar komunitasnya maka tidak dijamin berada dalam kebenaran, seluruh amal shalehnya sia-sia. Kefanatikan yang telah membawa pada sikap-sikap penghakiman atas manusia lain bahwa mereka berada diatas kesalahan, apapun yang diusahakannya sekalipun dia mengaku muslim. Sesuatu yang membuat hati miris, sedang kita tahu dan mereka sendiripun menyadari bahwa mereka tidak maksum, namun dengan mudah menilai orang lain golongan dzalim, fasik bahkan kafir.


Sikap fanatisme ini menutup pintu keterbukaan atas masukan-masukan dari “luar” komunitasnya. Saya teringat pada artikelnya masRoni Djamaludin dimana hal tersebut diatas disebutnya sebagaipenyakit persepsi. Di salah satu paragrafnya tertulis :

Kebiasaan ini kalau dibiarkan berlanjut, dapat memperparah endemi “penyakit persepsi” yang selama ini ada. Menyuburkan sikap diskriminatif satu sama lain, karena cenderung melihat kelebihan (kemampuan) seseorang (mungkin juga kelompoknya) d
an memandang remeh yang kebetulan tidak punya kelebihan. Bisa menimbulkan faham-faham baru yang pada saatnya nanti bisa berubah menjadi “bom waktu”. Pada gilirannya, dapat merongrong nilai-nilai kebenaran, yang notabene satu-satunya pemiliknya adalah Tuhan sendiri (Al Haq min Rabbika).



Tidak mudah mengakui hal ini jika kita masih berada di dalam pusarannya, karena doktrin-doktrin “lembaga” terus ditanamkan dan apalagi jika kita sendiri sudah berada pada level pemberi doktrin kepada para junior. Walaupun dalam hati kecil sudah merasakan banyak kejanggalan namun apa daya, sebagai motivator kita harus tetap dalam “posisi yakin dan meyakinkan”. Disinilah faktor ‘Hati Nurani’ sangat dibutuhkan, pada saat sensor nurani kita telah membunyikan signal ketidak beresan maka kita harus bersiap dan bersegera menentukan pilihan. Bukan dengan mengabaikannya karena takut dengan pendapat orang atau menyayangkan keberadaan kita yang sudah bertahun-tahun disana. Karena nurani kita bersifat hanif, cenderung pada kebenaran, maka dengan pertolongan Allah walaupun terasa sulit DIA akan menunjuki caraNYA.


Darimana kita bisa tahu sensor hati nurani telah mengirimkan tanda? Jawabnya adalah pada saat kita merasakan ketidaksesuaian antara yang dipropagandakan dengan yang dilaksanakan. Ketidaksesuaian antara doktrin-doktrin yang dipancangkan dengan kenyataan di lapangan. Pada saat kita merasa ayat-ayat Allah telah menjadi alat pelegalan untuk memanipulasi hak-hak manusia khususnya sesama muslim. Hanya perkenan Allah saja yang telah menolongku. Alhamdulillah, Allah memberi jalan bagiku dan keluarga untuk bisa keluar dari situasi itu.


Oleh sebab itu walau aku telah belasan tahun “tumbuh” dalam didikan dan bentukan komunitas itu, namun kini Allah terus menambahkan dan menambahkan banyak hikmah dan kesempatan yang luas kepada saya dan keluarga untuk menghargai kehidupan ini, menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan profesional di bidang kita masing-masing namun disertai dengan senantiasa mendzikiriNYA, menjadikanNYA maksud dan tujuan akhir perjalanan kita di dunia ini, menjalani qudrah iradahNYA dengan taqwa sebagai pancatan/tangga agar dapat pulang dengan selamat kembali kepadaNYA.


Hmm kuseruput tetes kuah terakhir mie instant-ku, ternyata ada nikmat Allah yang bisa kurasakan juga dalam makanan yang selalu kuanggap tidak sehat ini. Jangan-jangan aku pun sudah terkena sindrom penyakit persepsi, mengamini kata banyak orang bahwa mie instant penyebab penyakit kanker karena bahan pengawet dan MSG-nya. Padahal kalau dikonsumsi secara bijak dan tidak berlebihan, mie instant bisa juga menjadi teman.


Kunikmati malamku dalam kesederhanaan dengan semangkuk mie instan.
Alhamdulillah

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s