Kesederhanaan Cinta dalam “Rain Affair”

Posted on


Berbekal sinopsis-nya yang ditulis oleh penulis novelnya sendiri ditambah beberapa data yang kudapat dari pre-review yang ditulis beberapa teman blogger, aku mencoba menterjemahkannya dalam bahasaku sendiri. Semoga mb. Clara tidak kecewa atas beberapa kekurangan penafsiranku yang memang belum membaca novelnya.  

“Kebahagiaan justru ada pada diri mereka sendiri”…

Sebuah kalimat yang membuat saya tertarik untuk memulai pre-review atas novel Rain Affair milik Clara Canceriana.

Sebuah kisah cinta garpu tala yang sangat biasa terjadi pada anak manusia,  namun Clara berhasil mengemasnya dengan jalinan kata yang magis, seolah-olah cinta yang sejatinya sederhana itu harus melalui kerumitan-kerumitan rasa yang dialami oleh Noah, Lea maupun Nathan.

Noah mencintai Lea, namun ia tak cukup kuat menjaga ikatannya sehingga antara sadar dan tidak, ia merasa harus melakukan pengingkaran-pengingkaran untuk dapat menjaga jaraknya dari perempuan yang masih memiliki  asa besar terhadap dirinya.

Namun Lea tetaplah seorang wanita, makhluk Tuhan yang tersemat didalam dirinya intuisi yang dalam atas perubahan-perubahan kekasihnya. Ia berusaha tak mencurigai lelaki yang dicintainya ini, namun ia tak mengerti mengapa terasa ada tabir antara Noah dan dirinya. Kemana lelaki yang selama ini memenuhi hatinya dengan romantisme ?.

Dalam keadaan gamang itulah Nathan melengkapi “kekosongan kotak kepastian” Lea. Nathan berusaha tulus menghapus setiap jengkal kesedihan Lea akibat mistery yang ditinggalkan Noah untuknya. Nathan berusaha tanpa pamrih  menemani perih bathin wanita itu. Antara tak rela melihat wanita itu tersakiti oleh kekasihnya dan harapan besarnya akan dapat memiliki Lea pada suatu hari.

Sebuah kerumitan dalam kesederhanaan cinta yang membuat mereka tertatih-tatih menjalaninya. sebelum mereka sadar, ternyata kebahagiaan justru ada pada diri mereka sendiri.

Some people say, “it`s like a guilty pleasure.”
I know he is lying to me but i keep wanting him.
I thought, I`ve already felt in love with him.
But the worst part is, I`m lying too.

Sebuah novel yang mengangkat romantisme hujan sebagai latar episode-nya, nuansa yang selalu membangkitkan imajinasi pada pemerhatinya. Dilengkapi cover cantik bernuansa biru muda dan payung  terbalik berwarna merah jambu, seakan ingin menerjemahkan keseluruhan cerita yang ingin dikesankan oleh penulisnya tentang kesederhanaan cinta sesungguhnya.

Dan dalam hal ini Gagas Media patut diacungi jempol atas supportnya dalam menerbitkan gagasan Clara tentang cinta garpu tala Noah, Lea dan Nathan.
Semoga terinspirasi…

Salam

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s