“Kau adalah Dengan Siapa Kau Berteman…”

Posted on Updated on

                                                                 

Bingung gak baca judulnya…?

Mudah-mudahan masih mau meneruskan baca kelanjutannya ya…

Sekian lama diberi kesempatan menjalani fase demi fase kehidupan, kita bisa baaanyak sekali belajar.
Belajar tentang diri kita sendiri…
Karena itu yang terpenting.

Sering kita lihat, di dunia dengan keadaan yang semakin “terbesarkan” dengan semakin canggihnya teknologi ini, masyarakat telah berubah sedikit demi sedikit menjadi masyarakat yang pandai menilai orang lain baik atau buruk. Tetapi sedikit waktunya untuk menilai dirinya sendiri.

* Membaca dan mengkaji, dari mana dirinya berasal, untuk apa dan kemana akan menuju…
* Membuka kekurangan dan kelemahan diri disamping segala kesuksesan yang telah diraihnya.
* Mencari tahu, darimana asalnya sesungguhnya semua keberhasilan yang pernah dia dapat.
* Apakah benar, itu semua semata-mata karena perjuangannya, kesungguh-sungguhannya, ketekunannya, integritasnya, loyalitasnya dsb yang semua itu merupakan sikap-sikap yang baik dan sepantasnya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Ataukah ada faktor lain juga seperti kesempatan, anugrah, karunia, keberuntungan yang siapa lagi yang dapat memberi kecuali…Tuhan, yang Allah AsmaNYA.

Dan keadaan ini telah merambah pada semua sisi kehidupan di masyarakat manusia. Lebih parah terjadi pada tatanan sosial yang orang menyebutnya “Kelas menengah ke atas”, meskipun hal ini banyak pula menjangkiti masyarakat “kelas bawah katanya”. Yaah begitulah, “dunia dan segala isinya” memang merupakan batu ujian yang menyilaukan.

Kembali ke topik awal.

Semakin banyak kita berteman dengan beberapa komunitas pertemanan, akan terasa…”Atmosfir” yang berbeda-beda. Jika bergaul di”sini” begini rasanya. “Disana” begitu rasanya. “Disono” lain lagi rasanya 😉

Kalau bicara rasa, begitulah akan ada rasa yang berbeda-beda. Kenyamanan dan ketidak nyamanan akan bergantung pada sikap bathin yang sedang kita pegang.

Kita menyaksikan, baik dengan mata kepala sendiri (di lingkungan terdekat) maupun dengan mata kepala fihak lain (di media-media cetak maupun elektronik) bagaimana nasib seseorang/keluarga/institusi bisa tiba-tiba berubah karena sebuah opini. Opini tersebut terbentuk bisa jadi pada awalnya merupakan pendapat seseorang kemudian dengan bantuan fasilitas-fasilitas publik menggelinding menjadi opini publik.

Jika keadaan itu pada faktanya bisa mengangkat harkat dan martabat fihak yang menjadi obyek opini tersebut, alangkah baiknya. Maksudnya, tentu saja harus dalam koridor yang benar dalam pandangan umum (General view of humanity) sesuai dengan keberadaan masyarakat yang beragam yang hidup saling berdampingan.

Masalahnya, justru fenomena yang ada saat ini (tanpa menafikan memang telah terjadi banyak sekali pelanggaran hukum) dan hal ini merupakan hot issue dalam aturan Islam, bahwa akan terjadi banyak benturan dalam kehidupan bermasyarakat (sekarang ini ditambah ada komunitas/masyarakat lain yaitu masyarakat dunia maya/internet).

Banyak sekali pertikaian dan konflik. Pada awalnya seseorang merasa terganggu atau dirugikan atau bahkan mungkin dizalimi orang lain (menurut pandangannya/komunitasnya) lalu hal itu disebar kepada umum sehingga kemudian menjadi opini publik. Padahal belum tentu apa yang dikeluhkannya itu Shahih dalam pandangan hukum (ada yang nanya, hukum apa dulu nih…).

Banyak terjadi, jika kepentingannya terganggu maka ia berkeluh kesah bahkan sampai menggugat, namun jika orang lain memiliki pandangan yang berbeda dengan dirinya maka ia tidak suka.
Dirinya merasa berhak mengeluh dan menggugat sedang orang lain yang memiliki pandangan berbeda dianggap tidak tahu aturan dsb.

Ini salah satu contoh saja, bagaimana lambat laun pandangan/paradigma seseorang bisa saja berubah sedikit demi sedikit bergantung dengan siapa dan berapa lama dia berteman.

Akibatnya…jika sudah tumbuh rasa “Paling benar sendiri”, “Paling bisa sendiri”, “Paling Intelek sendiri” dsb, maka ia akan memandang orang / fihak / komunitas lain lebih rendah dari dirinya disadari atau tidak.

Sering ada istilah :”Jangan suka pilih-pilih teman. Berteman dengan siapa aja”. Seolah-olah kata itu datang dari orang yang bijak. Padahal Nabi saw sendiri sudah mewanti-wanti bahwa:

Rasulullah Saw. bersabda, “Seseorang itu akan mengikuti “agama” temannya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman”.
(HR Ibnu Hibban)

Saya tidak berhak menafsirkan hadist diatas karena saya bukan ahlinya. Tapi kalau kita diperintah untuk “memperhatikan” dengan siapa kita berteman ya “perhatikan” saja semampu kita sambil memohon perlindungan Allah, semoga pertemanan kita dengan siapapun akan semakin mendekatkan kita kepadaNYA, bukan sebaliknya.

Dan ini bukan berarti kita harus menjadi pribadi yang ekslusif, menutup diri dan kebaikan2 kita kepada siapapun. Bahkan kita pantas untuk berusaha bagaimana menjadi pribadi yang bisa meneruskan “kebaikan” Allah kepada orang lain.

Jika kita mengetahui kedudukan diri di hadapan Allah, semakin banyak teman, insha Allah akan semakin memahami keberagaman dan tidak mudah terjatuh pada sikap-sikap ekstrim yang membabi buta. akan semakin bijak dalam memandang dan memutuskan sesuatu.

Saya pribadi berharap, semoga keberadaan saya sebagai teman siapapun yang membaca tulisan ini tidak membuat anda semua tidak nyaman. Ingin sekali membahagiakan siapapun, tapi sebagai manusia pasti akan banyak sekali kekhilafan dan kekurangan.

So I’m sorry, good bye. Eh…blm good bye dulu deh….masih ingin berteman dengan kalian semua :).

Betul ‘quote” seorang teman….. “Indahnya Dunia Maya”….. 😉

Bogor, 20 April 2010

NB : Foto milik pribadi

Yang penuh kasih sayang, Cinta Hakiki http://sabarya.blogspot.com

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s