Hak Cipta, Milik Siapa? ………

Posted on

Hak cipta, Hak Paten, Hak Kekayaan Intelektual

Kata-kata itu dulu tidak menarik perhatianku sama sekali. Hanya sedikit yang kufahami tentang kata-kata itu saat di televisi ada memberitakan tentang pembajakan yang dilakukan orang atas album-album artis tertentu atau film-film, dimana para pelaku seni yang memproduksinya meradang karenanya. Ada yang beralasan dengan pembajakan tersebut merasa karya seninya tidak dihargai sampai alasan hak Royalti yaitu imbalan/hak  atas hasil karya mereka.

Kata-kata itu kini mulai menarik perhatianku. Sejak aktif menulis di dunia maya, saya sering menyertakan tulisan saya bersama gambar-gambar yang kebanyakan saya ambil dari Google Image,( dengan maksud sebagai ilustrasi untuk lebih memperjelas maksud tulisan-tulisan saya) disebabkan foto-foto hasil karya sendiri belum banyak dan belum memiliki hasil yang seindah foto-foto dari Google  (yaah banyak faktor juga sih, disamping kamera yang mungkin belum canggih juga ilmu fotografi yang minus ).

 Dalam proses penulisan, berjalan lancar-lancar saja. Naah,justru pada saat mengaplikasikan gambar/foto dari Google-lah, saya beberapa kali lupa untuk mencantumkan sumbernya. Disitulah saatnya ada seorang sahabat yang  mengingatkan saya tentang pentingnya mencantumkan nama/sumber dimana tempat saya menggunakan hasil karya orang lain dalam hal ini foto dari Google Image.

Saya sendiri memiliki teman-teman blog yang berkecimpung dalam dunia kuliner dan fotografi, dimana mereka sangat concern terhadap masalah copyright ini. Bahkan dalam beberapa tulisan di blog-blog mereka seringkali membahas tentang hal ini bilamana terjadi ‘pencurian’ foto-foto mereka oleh orang lain yang kemudian dipublikasi tanpa izin (ya iya laah, kalau mencuri berarti nggak pake izin yaa ^_^). Mereka menjelaskan tentang betapa sulitnya proses menuju hadirnya “hidangan/tampilan foody blog mereka dari mulai memproduksi masaknnya sendiri, mempersiapkan perangkat dan accessory hidangan untuk kepentingan foto masakan mereka hingga keberadaan kameranya itu sendiri yang kadang-kadang banyak bagi yang ingin memiliki kamera kualitas bagus harus menabung dulu untuk mewujudkannya dan hal itu saya alami sendiri,walaupun blog saya tidak bertema foody bloger.

Secara pribadi,saya setuju dengan pandangan tentang Hak Cipta ini. Apalagi sebagai muslim saya menyadari bahwa syari’at Islam juga mengatur tentang hak kepemilikan. Dimana sesuatu tidak bisa menjadi milik kita melainkan dengan keridhoan pemilik sebelumnya, baik dengan cara membelinya ataupun dengan izin lisannya (secara cuma-cuma) dan banyak penjelasan yang detail mengenai hal ini. Walaupun memang, masalah hak kepemilikan di bidang seni ini baru marak di era/ zaman kita sekarang karena di masa lalu belum ada karya seni bidang fotografi kecuali lukisan-lukisan. Ditambah lagi di negara kita telah diatur juga tentang masalah ini dengan hadirnya Undang-Undang Hak Cipta atau Hakki, sehingga tidak ada jalan lain bagi kita kecuali mematuhinya.

Namun, pada sisi lain, saya juga punya banyak teman di kalangan para penulis relijius, yang keberadaan mereka telah memenuhi jagat maya ini dengan tulisan-tulisan indah yang mengingatkan kita tentang makna hidup. Di kalangan mereka, khusus tentang karya-karya tulis maupun gambar di internet yang mereka fahami sebagai ruang publik,dimana merupakan suatu resiko apabila hasil karya mereka atau siapapun akan disebar/ dicopy paste/ orang lain dengan ataupun tanpa izinnya. Tetapi nampaknya bagi mereka hal itu bukanlah hal besar yang harus diperso’alkan,karena bagi mereka justru semakin banyak karya-karya baik yang dibaca atau digunakan lalu disebar dengan cara apapun kepada massa yang lebih banyak akan memperbesar nilai mereka di hadapan Allah. Banyak diantara mereka yang bahkan menulis di Profil Pribadinya baik facebook, blog, E-mail atau apapun bahwa siapapun yang ingin memperbanyak tulisan atau foto-foto mereka tidak perlu meminta izinnya. Saya bisa menyebutkan diantara mereka ada Ustadz/ KH.  Muhammad Arifin Ilham, Jeanny Dive pada akun facebooknya dan banyak lagi yang saya belum dapat menyebutkannya satu persatu yang mempunyai sikap demikian.

Disini ada ruang bagi kita untuk saling memahami,khususnya saya pribadi bahwa kedua fihak yang berbeda dalam mensikapi Hak Cipta ini sama-sama memiliki alasan.Terserah kepada kita untuk meyakini yang mana.

Saya kemudian hanya teringat kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw. Nabi yang dikirim Allah kepada kita semua untuk menjadi contoh hidup terbaik. Beliau dikenal sebagai pribadi yang santun dan dermawan luar biasa. Pribadi yang tidak pernah menolak permintaan siapapun yang memerlukan pertolongannya semampu beliau. Jika beliau tidak mampu mengabulkan permintaan tolong seseorang maka beliau saw menyuruh orang itu untuk meminjam kepada orang lain atas nama beliau. Pribadi yang tidak pernah mendahulukan kepentingan diri dan keluarganya diatas kepentingan orang lain. Pribadi yang pada saat pembagian Ghanimah (Harta rampasan perang) tidak melebihkan diri dan keluarganya diatas diri dan keluarga pasukannya. Pribadi yang pada saat wafatnya berbaring di atas pembaringan beralas pelepah pohon kurma dalam keadaan menanggung hutang seorang beragama Yahudi yang dahulu pernah meminta pertolongannya.

Tidak berkurang rezeky kita karena tulisan/foto/hasil karya kita diambil atau dicatut orang lain. Tidak berkurang rezeky kita karena jerih payah kita diklaim orang lain. Bahkan tidak berkurang rezeky kita jika datang perampok merampas harta dari tangan kita. Karena hakikat rezeky sesungguhnya adalah segala apa yang bisa dinikmati saat ini. Apa yang luput dari kita hari ini berarti bukan rezeki kita dari Allah,walaupun bertumpuk uang atau emas di Bank atas nama kita.

Tapi…..Harus digaris bawahi, ini tidak berarti kita boleh berbuat melanggar hak orang lain seperti diceritakan di atas. Sebagai umat Nabi yang memiliki akhlak yang baik tetaplah kita wajib memiliki akhlak yang luhur, termasuk dalam menggunkan media internet ini.Segala peraturan yang mengikatnya harus kita fahami betul. Saya hanya menekankan agar kita juga tidak cepat memvonis orang sebagai Plagiator atau Penjiplak begitu saja. Harus dilihat latar belakangnya,mungkin orang itu belum tahu atau memahami tentang hak cipta ini,atau sekedar lupa mencantumkan sumber pengambilan tulisan atau gambarnya. Boleh diingatkan dengan cara yang baik. Apabila yang bersangkutan meminta maaf, maka maafkanlah seperti sifat Allah yang Maha Pemaaf. Toh pinternya kita juga kan karena Allah yang meminjamkan, bukan pintar karya kita sendiri ya ^_^.

semoga bisa menjadi bahan tafakur

Bogor, 24 Maret 2010

Catatan: Ilustrasi saya ambil dari Google

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s