Bukan sekedar password

Posted on Updated on

Sssttt……tenanglah…!
Coba perhatikan…..

Lihat bayi itu, sedang lelap tertidur, setelah seharian bermain-main rupanya ia kelelahan.
Kita pun orang-orang yang telah dewasa membutuhkan tidur untuk beristirahat, bertahan sekuat apapun jika sudah kelelahan pasti tertidur juga. Di sofa ruang tamu, di tempat tidur, di depan TV, di dalam bus atau kereta api, di tengah jam perkuliahan, bahkan di trotoar-trotoar jalan sekalipun kita saksikan banyak orang yang lelah tertidur dengan nyenyaknya. Tak ada yang bisa menahannya, kecuali…………..

Tapi tidak selalu begitu juga…
Kau tahu ? Banyak orang yang merasa kesulitan untuk bisa tidur. Mereka menyebutnya ‘Insomnia’. Berat terasa bagi orang yang mengalaminya. Bayangkan, ia lelah luar biasa namun untuk bisa tertidur, sesuatu yang sejak awal kehidupannya tidak pernah terlewatkan dan menyamankannya, ia sudah tak bisa. Tidur, menjadi barang yang mahal harganya, kadang-kadang ia harus membelinya dengan menukar seteguk obat agar dapat merasakannya. Itupun hanya bersifat sementara, sedang tidur yang didorong obat-obatan tentu saja bukan tidur yang nikmat. Tak ada yang bisa menghadirkannya kecuali…………..

Sssssttt…….coba perhatikan lagi….

Mengapa orang itu tersenyum-senyum sendiri sambil mengerjakan sesuatu. Coba kita intip apa yang ada di benaknya….Hmmm ternyata dia sedang mencintai seseorang. Rasa itu hampir-hampir “meledakkannya”. Tak tahan, ingin melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Pantas ada sebuah lagu yang mengungkapkan, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Menandakan, orang yang merasakannya begitu terlena.
Mencintai seseorang itu beraneka rupa bentuknya, tergantung kepada siapa ia sedang mencinta. Seorang Ibu tak diragukan lagi, besar cintanya kepada anak-anaknya. Jika ia bisa, akan dilakukannya untuk membahagiakan buah hatinya.Atau Istri kepada suaminya atau sebaliknya. Bisa jadi anak kepada orang tuanya. Atau seorang teman kepada sahabatnya. Jika takdir menghendakinya berpisah dari orang yang dicintainya karena sesuatu urusan atau bahkan kematian, kita lihat…orang dapat demikian terpukul. Sampai-sampai rasa sakitnya menyesakkannya. Tak kuat menanggungkan perpisahan dengan orang yang biasa dikasihinya.

Tapi, ada pula yang tak kuasa menahan benci. Demikian beratnya kebencian membebaninya, sampai-sampai apapun akan ia lakukan untuk melampiaskannya. Kita saksikan, kemarahan dan segala upaya untuk menyakiti orang lain telah menjadi pilihan para pembenci sesamanya. Walau kadarnya berbeda-beda namun siapa yang bisa menghalang-halangi perasaan ini ?. Tidak ada, kecuali……….

Sssttttt………Perhatikan sekali lagi………
Bagaimana jika orang tak menemukan makanan dan minuman? Tak ada yang dapat menanggungnya jika hal itu terjadi dalam jarak 15 jam. Apalagi barang seteguk air, tidak bisa orang bertahan tanpanya dlam sehari semalam. Menjadi lemas seluruh tubuh, tak kuat membawa beban dan aktivitas. Walau banyak orang kelaparan di dunia ini, tetaplah ia membutuhkannya walau harus mengambil sesuatu yang menjijikkan. Tidak ada yang dapat menolak lapar dan haus, kecuali……………..

Bagaimana kita bisa menahan virus yang demikian kecil ukurannya..? Bagaimana kita bisa menangkis sesuatu yang mata kitapun tak dapat melihatnya memasuki tubuh kita ?. Bagaimanapun kita tidak menginginkannya, mereka akan tetap masuk, mengobrak-abrik sistem pertahanan tubuh kita dan kadang-kadang memenangkannya …………

Bagaimana kita bisa menahan sel-sel kanker itu hidup dan berkembang di dalam tubuh kita, merusak organ-organ penting tubuh kita. Memberikan penderitaan yang luar biasa. Bagaimanapun kita tidak menginginkan kehadirannya, mereka tetap masuk dan bekembang biak, memenuhi semesta tubuh kita …….

Ssssttt…..diamlah…..

Coba tafakuri….tanda-tanda apakah itu semua?

Ternyata…..ITU SEMUA KARENA KITA LEMAH….karena kita ini FAQIR….dihadapan semua kekuatan-kekuatan itu. Sangat terbatas. Di hadapan Tuhan yang Allah asmaNYA. So weak…so helpless.

Bagaimana kita dapat menahan TAQDIR, Kehendak yang tak terbatalkan dari Sang Kreator, Maha Pencipta yang detail, yang terus Memelihara dan Mengendalikan ciptaanNYA.

Ingatkah , ketika kita diajarkan bahwa untuk memulai segala aktivitas, mulailah dengan mengucapkan Basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim) ?

Ternyata, Basmallah bukan hanya sekedar Password untuk memulai aktivitas kita. Seolah-olah, hanya dengan mengucapkannya, maka aktivitas itu akan bermakna dan bernilai bagi diri pelakunya. Benarkah demikian ?. Karena burung Beo pun, jika dilatih mengucapkan Basmallah tentu ia pun dapat fasih melafalkannya. Bahkan orang-orang yang tak meyakininya pun,dengan mudah dapat meniru pengucapannya.

Lalu dimanakah letak kesakralan Basmalah jika demikian?
Ternyata itu semua tergantung pada bagaimana kita memaknai kalimat itu.

Bismillaahirrahmanirrahiim
Orang-orang sering menterjemahkannya :”Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”.
Saya bukan ahli bahasa, apalagi Bahasa Arab. Namun jika hanya berhenti pada pengertian seperti tersebut dalam terjemahan itu, maka pantaslah segala aktivitas kita itu menjadi tidak bermakna dan mendapat nilai ibadah, Karena Nama sang Maha Rahman dan Rahim itu HANYA DISEBUT saja, terucap didalam lisan  tanpa disertai Khidmat dan Takdzim hati kita kepadaNYA.

Kalimat Basmalah seharusnya merupakan Ruh yang menyertai dan menjiwai segenap aktivitas dan perbuatan kita. Dimana maknanya terpatri dalam hati, kesadaran bahwa Bersama Dzat yang disebut Allah asmaNYA,dengan seluruh sifat Maha PengasihNYA dan PenyayangNYA maka segala perbuatan kita terjadi. Karena tanpa bersamaNYA, dari sejak awal hingga akhirnya, kita tidak memiliki daya dan kekuatan sama sekali. ibarat daun kering yang terombang-ambing hantaman ombak di atas samudra.

Maka kesadaran bahwa Allah selalu Menyertai dan Meliputi (tidak dari kejauhan, namun dari kedekatan yang amat dekat, bahkan dapat terasa kehadiranNYA di dalam rasa hati) seharusnya menjadi TITIK TOLAK agar segala aktivitas ini dilakukan semata-mata demi untuk mensucikanNYA.

Kesadaran bahwa diri ini sangat terbatas dan sangat lemah dihadapanNYA, bukan untuk mereduksi / mengurangi semangat kita. Namun untuk mengembalikan pensikapan yang benar pada tempatnya.

Semangat adalah “Api” yang harus terus kita tiupkan kedalam diri ini untuk terus beramal shaleh, memperbanyak lakon pitukon di dunia ini, semata-mata demi untuk memenuhi PerintahNYA. Bukan karena kita bisa, karena yang mem”bisa”kan kita juga hanyalah DiriNYA Tuhan, Allah namaNYA.

Alangkah santunnya Insan, yang senantiasa melantunkan dalam lisan dan hatinya :

LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAH AL’ALIYYIL ‘ADZIIM
Tidak ada daya dan kekuatanku, kecuali yang dipinjamkan dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Wallahu A’lambishawwab
Bogor 10 Maret 2010

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s